Selasa, 15 April 2014

Teori keperawatan Medeleine Leinenger

Teori keperawatan Medeleine Leinenger
                                                                                      
Medeleine Leininger membuat model konseptual tentang pemberian traskultural. Hal ini menghasilkan konsep kerangka kerja pemberian asuhan transkultural yang mengakui adanya perbedaan (diversitas), dan persamaan (universalitas) dalam pemberian asuhan di budaya yang berbeda.
Beberapa inti dari model teorinya
1.    Asuhan membantu, mendukung atau membuat seorang atau kelompok yang memiliki kebutuhan nyata agar mampu memperbaiki jalan hidup dan kondisinya.
2.    Budaya diekspresikan sebagai norma-norma dan nilai-nilai kelompok tertentu.
3.    Asuhan transkultural perawat secara sadar mempelajari norma-norma, nilai-nilai dan cara hidup budaya tertentu dalam rangka memberikan bantuan dan dukungan dengan tujuan untuk membantu individu mempertahankan tingkat kesejahteraanya.
4.    Keanekaragaman asuhan kultural mengakui adanya variasi dan rentang kemungkinan tindakan dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.
5.    Universalitas asuhan kultural merujuk pada persamaan atau karakteristik universal, dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.

Hubungan model dan paradigm keperawatan
1.    Manusia: seseorang yang diberi perawatan dan harus diperhatikan kebutuhannya
2.    Kesehatan: konsep yang penting dalam perawatan transkultural
3.    Lingkungan: tidak didefinisikan secara khusus, namun jika dilihat bahwa telah terwakili dalam kebudayaan, maka lingkungan adalah inti utama dari teori Leininger
4.    Keperawatan: beliau menyajikan 3 tindakan yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu cultural care preservation, accomodation dan repaterning.

Hubungan teori Leininger dengan konsep holism
Holistic artinya menyeluruh. Perawat perlu melakukan asuhan keperawatan secara menyeluruh/holistic care, hal ini dikarenakan objek keperawatan adalah manusia yang merupakan individu yang utuh sehingga dengan asuhan keperawatan terhadap individu harus dilakukan secara menyeluruh dan holistic.
Asuhan holistic maupun menyeluruh, individu diperlakukan secara utuh sebagai individu/ manusia, perbedaan asuhan keperawatan menyeluruh berfokus memadukan berbagai praktek dan ilmu pengetahuan kedalam satu kesatuan asuhan. Sedangkan asuhan holistic berfokus pada memadukan sentiment kepedulian dan praktek perawatan ke dalam hubungan personal-profesional antara perawat dan pasien yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan pasien sebagai individu yang utuh.
Leininger dengan teori modelnya telah dengan jelas memaparkan bahwa asuhan keperawatan yang diberikan pada klien atau kelompok harus mengikutsertakan individu/kelompok secara keseluruhan termasuk aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan menitikberatkan konsep terapi pada kondisi kultural klien.

Hubungan teori Leininger dengan konsep humanism
Perawatan manusia membutuhkan perawat yang memahami prilaku dan respon manusia terhadap masalah kesehatan yang aktual maupun yang potensial, kebutuhan manusia dan bagaimana cara berespon kepada orang lain dan memahami kekurangan dan kelebihan klien dan keluarganya, sekaligus pemahaman kepada dirinya sendiri. Selain itu perawat memberikan kenyamanan dan perhatian serta empati kepada klien dan keluarganya, asuhan keperawatan tergambar pada seluruh faktor-faktor yang digunakan oleh perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan pada klien.
Hubungan dari teori Leininger dan konsep humanism ini bahwa memberikan pelayanan kesehatan pada klien dengan memandang klien sebagai invidu sebagai personal lengkap dengan fungsinya

Kelebihan dan kekurangan teori transcultural dari Leininger
Kelebihan:
1.    Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang berbeda.
2.    Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll).
3.    Penggunakan teori ini  dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit.
4.    Penggunanan teori transcultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan.
5.    Teori ini banyak  digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek keperawatan .

Kelemahan:
1.    Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga  tidak bisa berdiri sendiri dan  hanya  digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya.
2.    Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya.

Tujuan studi praktek pelayanan kesehatan transkultural adalah meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktek kesehatan dalam berbagai budaya (kultur) baik dimasa lalu maupun zaman sekarang, akan terkumpul persamaan-persamaan, sehingga kombinasi pengetahuan tentang pola praktek transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dari berbagai kultur.

Teori keperawatan Margareth Newman

Teori keperawatan Margareth Newman

Margaret Newman lahir pada tanggal 10 Oktober 1933 di Memphis Tennessee. Pendidikan yang diperoleh pada tahun 1962 ia menerima gelar sarjananya dalam Keperawatan. Pada tahun 1964 ia menerima gelar Master nya Medical-Surgical Nursing. Pada tahun 1971 ia menyelesaikan Doktor nya Ilmu Keperawatan dan Rehabilitasi.

Konsep Dasar Model Keperawatan Margaret Newman
1.    Kesehatan sebagai kesadaran mengembangkan
Kesehatan Newman sebagai Memperluas Kesadaran dipengaruhi oleh Martha Rogers. Newman (2003) menulis:
Teori kesehatan sebagai perluasan batang kesadaran dari teori Rogers dari Manusia Kesatuan. Asumsi Rogers mengenai pola orang dalam interaksi dengan lingkungan sekitarnya merupakan dasar bagi pandangan bahwa kesadaran merupakan perwujudan dari pola berkembang dari orang-interaksi lingkungan. Pola informasi, yang merupakan kesadaran dari sistem, merupakan bagian dari pola yang lebih besar, tak terbagi dari alam semesta yang mengembang.
Teori Newman pengenalan pola menyediakan dasar untuk proses perawat-klien interaksi. Newman menyarankan bahwa tugas dalam intervensi adalah pengenalan pola dilakukan oleh profesional kesehatan menjadi sadar akan pola orang lain dengan menjadi berhubungan dengan pola mereka sendiri. Newman menyarankan bahwa profesional harus fokus pada pola orang lain, bertindak sebagai "balok acuan dalam hologram".
2.    Asumsi
a.    Kesehatan meliputi kondisi sampai sekarang digambarkan sebagai penyakit, atau, dalam istilah medis, patologi
b.    Kondisi patologis dapat dianggap sebagai manifestasi dari pola total individu
c.    Pola individu yang akhirnya memanifestasikan dirinya sebagai patologi primer dan ada sebelum perubahan struktural atau fungsional
d.   Penghapusan patologi itu sendiri tidak akan mengubah pola indivdual
e.    Jika menjadi sakit adalah satu-satunya cara pola individu dapat terwujud, maka itu adalah kesehatan untuk orang tersebut
f.     Kesehatan merupakan perluasan kesadaran.
3.    Konsep Utama Newman
a.    Kesehatan: menyangkut penyakit dan non penyakit, ekspilasi pola yang mendasari individu dan lingkungan. Sebagai suatu proses perkembangan kesadaran diri dan lingkungan bersama-sama dengan peningkatan kemampuan untuk mempersepsikan alternatif dan berespon dalam berbagai cara.
b.    Pola: apa yang mengidentifikasi individual sebagai seseorang yang khusus
c.    Kesadaran: kapasitas informasional sistem: kemampuan sistem berinteraksi dengan lingkungannya (waktu, pergerakan dan ruang)



Teori Keperawatan Dorothea Orem

Teori Keperawatan Dorothea Orem

Dorothea Orem adalah salah seorang teoritis keperawatan terkemuka di Amerika. Dorothea Orem lahir di Baltimore, Maryland di tahun 1914. Ia memperoleh gelar sarjana keperawatan pada tahun 1939 dan Master Keperawatan pada tahun 1945. Menurut Orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraannya, oleh karena itu teori ini dikenal sebagai Self Care (perawatan diri) atau Self Care Defisit Teori. Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia, dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas Self Care mereka.

Teori Sistem Keperawatan Orem
Teori ini mengacu kepada bagaimana individu memenuhi kebutuhan dan menolong keperawatannya sendiri, maka timbullah teori dari Orem tentang Self Care Deficit of Nursing. Dari teori ini oleh Orem dijabarkan ke dalam tiga teori yaitu ;
1.    Self Care
Perawatan diri sendiri adalah suatu langkah awal yang dilakukan oleh seorang perawat yang berlangsung secara berkelanjutan sesuai dengan keadaan dan keberadannya , keadaan kesehatan dan kesempurnaan. Perawatan diri sendiri merupakan aktifitas yang praktis dari seseorang dalam memelihara kesehatannya serta mempertahankan kehidupannya. Terjadi hubungan antar pembeli self care dengan penerima self care dalam hubungan terapi. Orem mengemukakan tiga kategori / persyaratan self care yaitu: persyaratan universal, persyaratan pengembangan dan persyaratan kesehatan.
2.    Self Care Deficit
Teori ini merupakan inti dari teori perawatan general Orem yang menggambarkan kapan keperawatan diperlukan. Oleh karena perencanaan keperawatan pada saat perawatan yang dibutuhkan. Bila dewasa (pada kasus ketergantungan, orang tua, pengasuh) tidak mampu atau keterbatasan dalam melakukan self care yang efektif.
Teori self care deficit diterapkan bila;
a.    Anak belum dewasa
b.    Kebutuhan melebihi kemampuan perawatan
c.    Kemampuan sebanding dengan kebutuhan tapi diprediksi untuk masa yang akan datang.
3.    Nursing system
Teori yang membahas bagaimana kebutuhan “Self Care” pasien dapat dipenuhi oleh perawat, pasien atau keduanya. Nursing system ditentukan atau direncanakan berdasarkan kebutuhan “Self Care” dan kemampuan pasien untuk menjalani aktifitas “Self Care”.
  
Orem mengidentifikasikan klasifikasi Nursing System :
a.    The Wholly Compensatory System
Merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan secara penuh kepada pasien dikarenakan ketidakmampuan pasien dalam memenuhi tindakan keperawatan secara mandiri yang memerlukan bantuan dalam pergerakan, pengontrolan dan ambulasi, serta adanya manipulasi gerakan.
b.    The Partly Compensantory System
Merupakan system dalam memberikan perawatan diri secara sebagian saja dan ditujukan pada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal seperti pada pasien post op abdomen dimana pasien ini memiliki kemampuan seperti cuci tangan, gosok gigi, akan tetapi butuh pertolongan perawat dalam ambulasi dan melakukan perawatan luka.
c.    The supportive – Educative System

Dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya untuk dipelajari, agar mampu melakukan perawatan mandiri.

Teori Keperawatan Callista Roy

Teori Keperawatan Callista Roy

Berkembangnya teori keperawatan model adaptasi oleh sister Callista Roy ini terjadi pada tahun 1964. Teori ini digunakan sebagai landasan dan model konsep yang esensial dalam pendidikan keperawatan. Model ini merupakan model yang menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku yang adaptif dan mampu merubah perilaku yang mal adaptif atau memandang klien sebagai suatu sistem adaptasi secara keseluruhan.
Tujuan dari model adaptasi ini adalah membantu seseorang untuk beradaptasi terhdap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, dan fungsi peran dan hubungan interdependensi selama sakit. Kebutuhan asuhan keperawatan muncul ketika klien tidak dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Callista Roy mengemukakakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya antara lain:
1.    Manusia adalah mahluk bio-psiko-sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Seseorang dapat dikatakan sehat jika mampu memenuhi kebutuhan biologis, psikologis, dan sosialnya.
2.    Untuk mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi sesuai dengan perubahan yang terjadi. Kemampuan adaptasi seseorang dipengaruhi oleh tiga penyebab, yaitu penyebab utama terjadinya perubahan situasi dan kondisi yang ada serta keyakinan dan pengalaman dalam beradaptasi atau kemampuan untuk melakukan peran dan fungsi secara optimal.
3.    Terdapat tiga tingkatan adaptasi yang dikemukakan oleh Callista Roy, diantaraya: (A) Focal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradaptasi dengan seseorang dan akan mempunyai pengaruh kuat terhadap seorang individu. (B) Kontekstual stimulus adalah stimulus lain yang dialami seseorang, baik stimulus internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi. Kemudian dapat dilakukan observasi dan diukur secara subjektif. (C) Residual stimulus yaitu stimulus lain yang merupakan ciri tambahan yang ada atau sesuai dengan situasi dalam proses penyesuaian dengan lingkungan yang susah untuk diobservasi.
Sistem adaptasi mempunyai empat metode adaptasi, yaitu: (A) Fungsi fisiologis komponen sistem adaptasi ini diantaranya: Oksigenasi, Nutrisi, Eliminasi, Aktifitas dan istirahat, Integritas kulit, Indera, Cairan dan elektrolit, (B) Fungsi neurologis, (C) Fungsi endokrin, dan (D) Fungsi peran.
Secara ringkas,  Callista Roy mengemukakan bahwa individu sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual sebagai kesatuan utuh yang memiliki koping untuk beradaptasi terhadap segala perubahan lingkungan.


Selasa, 25 Maret 2014

APLIKASI TEORI KENYAMANAN KATHARINE KOLCABA











Kolcaba mulai membuat bagan teorinya dengan melakukan analisa konsep dari berbagai disiplin ilmu, yaitu keperawatan, medis, psikologi, psikiatri, ergonomik dan bahasa inggris. Dalam berbagai artikelnya, Kolcaba memaparkan tentang teori kenyamanan dengan menelusuri catatan sejarah penggunaan kenyamanan dalam keperawatan. Sebagai contoh, Kolcaba menggunakan teori Nightingale (1859) yang menekankan “Tidak akan pernah melihat apa yang diobservasi dan untuk apa. Bukan untuk menabrak bermacam-macam informasi atau fakta yang tidak benar, tetapi untuk kepentingan menyelamatkan hidup dan meningkatkan kesehatan dan kenyamanan” (Tomey dan Alligood, 2006: 727).

A.       DEFINISI DAN KONSEP UMUM

1.         Kebutuhan Perawatan Kesehatan

Kebutuhan perawatan kesehatan didefinisikan sebagai kebutuhan untuk memperoleh kenyamanan, bangkit dari situasi stres. Kebutuhan disini meliputi kebutuhan fisik, psikospiritual, sosial, dan lingkungan yang diperoleh melalui monitoring, laporan verbal dan non verbal, kebutuhan yang berhubungan dengan parameter patofisiologi, kebutuhan pendidikan dan dukungan, serta kebutuhan konseling finansial dan intervensi (Kolcaba, 1994 dalam Tomey dan Alligood, 2006: 728).

2.         Pengukuran Kenyamanan

Pengukuran kenyamanan didefinisikan sebagai intervensi keperawatan untuk mengetahui kebutuhan kenyamanan resipien secara spesifik meliputi  fisiologi, sosial, finansial, psikologi, spiritual, lingkungan, dan intervensi fisik (Kolcaba, 1994 dalam Tomey dan Alligood, 2006: 728).

3.         Varibel-variabel Intervensi

Didefinisikan sebagai interaksi kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi  persepsi resipien tentang kenyamanan total. Variabel ini terdiri atas pengalaman masa lalu, umur, sikap, status emosional, sistem pendukung, prognosis penyakit, keuangan, dan pengalaman resipien secara keseluruhan (Kolcaba, 1994 dalam Tomey dan Alligood, 2006: 728).

4.         Kenyamanan

Didefinisikan sebagai kondisi yang dialami oleh resipien berdasarkan pengukuran kenyamanan. Ada tiga tipe kenyamanan (dorongan, ketentraman dan transcendence) serta empat konteks pengalaman (fisik, psikospiritual, sosial dan lingkungan). Tipe-tipe kenyamaman didefiniskan sebagai berikut (Kolcaba, 2001 dalam Tomey dan Alligood, 2006: 728):

a.       Dorongan (relief): kondisi resipien yang membutuhkan penanganan yang spesifik dan segera.

b.      Ketenteraman (ease): kondisi yang tenteram atau kepuasan hati.

c.       Transcendence: kondisi dimana individu mampu mengatasi masalahnya (nyeri).

Empat konteks kenyamanan adalah (Kolcaba, 2003 dalam Tomey dan Alligood, 2006: 728; Kolcaba 1991 dalam Peterson dan Bredow, 2004: 258):

a.       Fisik : berkaitan dengan sensasi jasmani.

b.      Psikospiritual : berkaitan dengan kesadaran diri, internal diri, termasuk penghargaan, konsep diri, seksual dan makna hidup; berhubungan dengan perintah yang terbesar atau kepercayaan.

c.       Lingkungan : berkaitan dengan keadaan sekitarnya, kondisi-kondisi, dan pengaruhnya.

d.      Sosial : berkaitan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan sosial.

5.      Perilaku Pencari Kesehatan (Health-seeking Behaviors/HSBs)

Suatu keadaan yang menggambarkan secara luas hasil yang dihubungan dengan pencari kesehatan serta ditetapkan oleh resipien pada saat konsultasi dengan perawat. Perilaku pencari kesehatan dapat internal, eksternal, atau meninggal dengan penuh kedamaian.

6.   Institusi Yang Terintegrasi

Kolcaba (2001) dalam Tomey dan Alligood (2006: 729) menjelaskan yang dimaksud dengan integritas institusi adalah kelompok, komunitas, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, panti asuhan, yang memiliki kualitas atau tempat yang lengkap, jumlah, suara, jujur, kasih, tulus, dan sungguh-sungguh. Hubungan antara kenyamanan dan integritas institusi adalah berulang.

B.           ASUMSI-ASUMSI TEORI KOLCABA

Kolcaba (2001) dalam Tomey dan Alligood (2006: 729) menjelaskan tentang konsep metaparadigma sebagai berikut:



1.      Keperawatan

Keperawatan adalah pengkajian yang sengaja dilakukan untuk pemenuhan kenyamanan, merancang pengukuran kenyamanan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dan mengkaji ulang tingkat kenyamanan pasien setelah implementasi serta membandingkannya dengan target sebelumnya. Pengakajian awal dan pengkajian ulang dapat bersifat subjektif atau intuitif atau kedua-duanya. Pengkajian dapat dicapai melalui administrasi analog visual atau daftar pertanyaan, atau kedua-duanya. Menurut Kolcaba dalam Tomey dan Alligood (2006: 734), untuk memberikan kenyamanan pasien setidaknya memerlukan tiga jenis intervensi kenyamanan, yaitu:

a.       Teknik mengukur kenyamanan (technical comfort measures) adalah intervensi yang didesain untuk mempertahankan homeostasis dan manajemen nyeri, seperti monitor tanda-tanda vital dan hasil kimia darah darah. Termasuk juga dalam pemberian obat anti nyeri. Pengukuran kenyamanan didesain untuk (1) membantu pasien mempertahankan atau memulihkan fungsi fisik dan kenyamanan, dan (2) mencegah terjadinya komplikasi.

b.      Pembinaan (coaching), termasuk intervensi yang didesain untuk membebaskan rasa nyeri dan menyediakan penenteraman hati dan informasi, membangkitkan harapan, mendengar, dan membantu perencanaan yang realistis untuk pemulihan, integrasi, atau meninggal sesuai budayanya.

c.       Comfort Food” untuk jiwa, meliputi intervensi yang tidak dibutuhkan pasien saat ini tetapi sangat berguna bagi pasien. Intervensi kenyamanan ini membuat pasien merasa lebih kuat dalam kondisi yang sulit diukur secara personal. Target intervensi ini adalah transcendence meliputi hubungan yang mengesankan antara perawat dan pasien, keluarga, atau kelompok. Sugesti kenyamanan ini dapat diberikan dalam bentuk pijatan, lingkungan yang adaptif yang menciptakan kedamaian dan ketenangan, guided imagery, terapi musik, mengenang masa lalu, dan sentuhan terapeutik.

2.      Pasien

Pasien adalah penerima perawatan, dapat perorangan, keluarga, lembaga, atau komunitas yang membutuhkan pelayanan kesehatan.



3.      Lingkungan

Lingkungan adalah semua aspek luar (fisik, politis, kelembagaan, dan lain-lain) dari pasien, keluarga, lembaga yang dapat dimanipulasi oleh perawat atau seseorang yang dicintai untuk meningkatkan kenyamanan.

4.      Kesehatan

Kesehatan adalah fungsi optimum yang diperlihatkan oleh pasien baik individu, keluarga, kelompok, atau komunitas.

Kolcaba (1994) dalam Peterson dan Bredow (2004: 259) mengemukakan beberapa asumsi tentang kenyamanan antara lain:

1.  Manusia mempunyai respon yang holistik terhadap stimulus yang   kompleks.

2.  Kenyamanan adalah suatu hasil holistik yang diharapkan yang berhubungan dengan disiplin keperawatan.

3. Manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan kenyamanannya secara aktif.

4.  Kenyamanan adalah lebih dari tidak adanya nyeri, cemas, dan ketidaknyamanan fisik lainnya.


C.           STRUKTUR TAKSONOMI TEORI KENYAMANAN

Kolcaba mengatakan pentingnya pengukuran kenyamanan sebagai hasil tindakan dari perawat. Perawat dapat mengumpulkan tanda-tanda atau fakta untuk membuat sebuah keputusan serta untuk menunjukkan efektifitas dari perawatan kenyamanan. Kolcaba menyarankan penggunaan Struktur Taksonomi dalam melakukan pengkajian untuk pengukuran kenyamanan pada pasien. Berdasarkan Struktur Taksonomi, Kolcaba (1997) mengembangkan suatu instrumen untuk mengukur kenyamanan pasien yaitu General Comfort Questionnaire. Dalam kuisioner tersebut tergambarkan terdapat item-item positif dan negatif dalam beberapa kolom-kolom (Tomey dan Alligood,      2006: 735).







Type of Comfort
Relief
Ease
Transcendence
Context in Which Comfort Occurs
      Physic



Psychospiritual



    Environmental



   Social




Tabel 1. Struktur Taksonomi dari Teori Kenyamanan

Sumber: Kolcaba dalam Tomey dan Alligood (2006)

Pada tabel diatas menjelaskan tentang struktur taksonomi dari teori kenyamanan Kolcaba, yang terdiri dari tiga tipe kenyamanan, yaitu relief, ease, dan transcendence; dan meliputi empat konteks kenyamanan, antara lain fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial.

Adapun cara menggunakan tabel ini adalah:

1.    Pada kolom relief dituliskan pernyataan tentang kondisi pasien yang membutuhkan tindakan perawatan spesifik dan segera terkait dengan kenyamanan pasien, meliputi empat konteks kenyamanan (fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial).

2.    Pada kolom ease dituliskan pernyataan yang menjelaskan tentang bagaimana kondisi ketentraman dan kepuasan hati pasien yang berkaitan dengan kenyamanan, meliputi empat konteks kenyamanan (fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial).

3.    Pada kolom transcendence dituliskan pernyataan tentang bagaimana kondisi pasien dalam mengatasi masalah yang terkait dengan kenyamanan, meliputi empat konteks kenyamanan (fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial).

Selain itu, pengkajian kenyamanan di klinik, perawat dapat juga menggunakan beberapa instrumen yang telah diuji secara empiris, seperti Radiation Therapy Comfort Questionnaire, Visual Analog Scales, Urinary Incontinence and Frequency Comfort Questionnaire, Hospice Comfort Questionnaire, Comfort Behaviors Checklist (Peterson dan Bredow, 2004:    264-268).

D.          BENTUK LOGIS

Kolcaba menyatakan teori kenyamanan meliputi tiga tipe alasan logis:

1.        Induction

Induksi terjadi setelah terjadi proses generalisasi dari pengamatan terhadap objek yang spesifik (Bishop & Hardin, 2006). Ketika perawat mendalami tentang praktek keperawatan dan keperawatan sebagai disiplin, perawat menjadi familiar dengan konsep implisit atau eksplisit, term, proposisi, dan asumsi yang mendukung praktik keperawatan.

Pada akhir 1980, Kolcaba menjabat sebagai kepala unit Alzheimer. Pada saat itu beliau menemukan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan praktek pada perawatan demensia seperti: lingkungan yang mendukung, ketidakmampuan yang berlebih (excess disability), dan fungsi optimal. Ketika beliau mencoba menggambarkan hubungan antara ketiga istilah tersebut, beliau menyadari bahwa ketiganya tidak dapat menggambarkan praktik secara menyeluruh. Menurut beliau, ada bagian yang kurang lengakap dalam keperawatan, yaitu bagaimana perawat mencegah disabilitas dan penilaian apakah intervensi yang diberikan berhasil. Fungsi optimal diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan aktivitas, misalnya menata meja, menyiapkan makanan dan lain-lain. Akan tetapi, istilah ketidakmampuan berlebih tidak mampu mendefinisikan clarity secara menyeluruh. Oleh karena itu, Kolcaba (1) menggolongkan excess disability menjadi disabilitas fisik dan mental, (2) mengenalkan konsep comfort (3) menjelaskan hubungan non-recursive antara comfort dan fungsi optimal. Proses ini menandai langkah awal dari teori comfort Kolcaba dan pemikiran tentang kompleksitas terhadap teori tersebut (Kolcaba, 1992).

2.        Deduction

Deduksi merupakan proses penyimpulan prinsip atau premis yang bersifat general menjadi kesimpulan yang lebih spesifik (Bishop & Hardin, 2006). Tahapan deduktif dari perkembangan teori menghasilkan hubungan comfort dengan konsep lain untuk menghasilkan sebuah teori. Pendapat dari ketiga theorist disertakan dalam teori comfort, oleh karena itu Kolcaba mencari bentuk dasar yang dibutuhkan untuk menyatukan ketiga konsep dasar: relief, ease, dan transcendence. Sesuatu hal yang diinginkan adalah suatu kerangka konsep general yang mampu menjelaskan comfort menjadi istilah yang lebih mudah dipahami dan mengurangi tingkat abstraksinya (Tomey & Alligood, 2010).

Teori dari seorang psikolog bernama Henry Murray, dianggap sesuai untuk mendukung teori comfort Kolcaba. Teori Murray menjelaskan tentang human needs, yang diaplikasikan pada pasien yang mendapatkan banyak stimulus dalam kondisi pemberian pelayanan kesehatan yang penuh dengan stressor. Teori Murray menginspirasi pendapat Kolcaba bahwa meskipun comfort diaplikasikan secara spesifik, akan tetapi ketika comfort diberikan kepada pasien secara terus-menerus maka kenyamanan pasien secara keseluruhan dapat ditingkatkan (Tomey & Alligood, 2010).

Dalam tahap deduktif ini, Kolcaba memulai dengan abstrak, teori konstruksi umum, dan proses sosiologis dari pengurangan untuk mengurangi keabstrakan dari teori comfort dalam praktek keperawatan.

3.        Retroduction
    Retroduction digunakan untuk menyeleksi fenomena yang sesuai untuk dikembangkan lebih luas untuk kemudian diuji kembali. Tipe ini diaplikasikan dalam area yang hanya memiliki beberapa teori (Bishop & hardin, 2006). Kolcaba menambahkan konsep integritas institusional dalam middle range theory. Kolcaba menambahkan line 4 dalam kerangka teori Murray, antara lain: kekuatan penghambat membutuhkan perawatan kesehatan, kekuatan fasilitasi adalah intervensi keperawatan, kekuatan interaksi merupakan variabel-variabel yang mempengaruhi intervensi keperawatan. Hasil yang diharapkan dari pemberian intervensi keperawatan adalah diperolehnya kenyamanan pasien yang dapat dilihat dari persepsi yang dikemukakan oleh pasien. 


Dalam kerangka kerjanya tersebut Kolcaba menguraikan tentang teori kenyamanan sebagai berikut:

1.        Adanya kebutuhan perawatan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan yang spesifik yang timbul dalam suatu situasi perawatan kesehatan.
2.        Kebutuhan kenyamanan tersebut membutuhkan intervensi keperawatan yang membutuhkan komitmen dalam perawatan kenyamanan pasien.
3.        Dalam pemberian intervensi kenyamanan akan dipengaruhi oleh variabel-variabel intervensi seperti level dari staf keperawatan, insentif yang diterima oleh perawat, dan patient acuity.
4.        Tujuan dari pemberian intervensi adalah akan didapatkan kenyamanan pasien. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya kenyamanan pasien maka dilakukan pengukuran dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan dari struktur taksonomi.
5.        Kenyamanan pasien akan menentukan perilaku pasien dalam mencari kesehatan (health seeking behaviors of patient), yang ditunjukkan dengan perilaku internal, eksternal ataupun kematian dengan damai.
6.        Health seeking behaviors of patient melibatkan institusi yang terintegrasi yang memiliki sistem nilai positif, tujuan yang jelas terkait dengan kenyamanan resipien, perbaikan kesehatan, dan kelangsungan finansial.
7.        Hasil akhir yang diharapkan dalam kerangka kerja penelitian ini adalah adanya kepuasan dari resipien yang dilihat dari status fungsional resipien atau Health Seeking Behaviors (HSB) yang lain, dan berdasarkan hasil survey dari perawatan kenyamanan.
A.       APLIKASI TEORI KENYAMANAN
Aplikasi teori kenyamanan di area keperawatan menggunakan metode pendekatan proses keperawatan. Proses keperawatan mencakup kegiatan pengkajian, penegakan diagnosis keperawatan sesuai masalah keperawatan, menyusun intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi.
1.      Pengkajian keperawatan
Pengkajian ditujuan untuk menggali kebutuhan rasa nyaman klien dan keluarga pada empat konteks pengalaman fisik, psikospiritual, sosialkultural dan lingkungan. Kenyamanan fisik terdiri dari sensasi tubuh dan mekanisme homeostasis. Kenyamanan psikospiritual mencakup kesadaran diri (harga diri, seksualitas, arti hidup) dan hubungan manusia pada tatanan yang lebih tinggi. Kenyamanan lingkungan terdiri dari lampu, bising, lingkungan sekeliling, cahaya, suhu, elemen tiruan versus alami.
2.      Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan bertujuan meningkatkan rasa nyaman. Intervensi kenyamanan memiliki tiga kategori: (a) intervensi kenyamanan standar untuk mempertahankan homeostasis dan mengontrol rasa sakit, (b) pelatihan untuk meredakan kecemasan, memberikan jaminan dan informasi, menanamkan harapan, mendengarkan dan membantu merencanakan pemulihan dan (c) tindakan yang menenangkan bagi jiwa, hal-hal menyenangkan yang perawat lakukan untuk membuat klien atau keluarga merasa diperhatikan dan diperkuat seperti pijat atau guided imagery, (kolcaba, 2003). Intervensi holistik yang sesuai dengan teori kenyamanan antara lain: guided imagery, progressive muscle relaxation, meditasi, terapi mjsik atau seni, pijatan dan sentuhan terapeutik (Peterson dan Bredow, 2004).
3.      Implementasi keperawatan
Kebutuhan kenyamanan fisik termasuk defisit dalam mekanisme fisiologis yang terganggu atau beresiko karena sakit atau prosedur invasif. Kebutuhan fisik yang tidak jelas terlihat dan yang mungkin tidak disadari seperti kebutuhan cairan atau keseimbangan elektrolit, oksigenasi atau termoregulasi. Kebutuhan fisik yang terlihat seperti sakit, mual, muntah, mengigil atau gatal lebih mudah ditangani dengan maupun tanpa obat. Standar kenyamanan intervensi diarahkan untuk mendapatkan kembali dan mempertahankan homeostasis (kolcaba dan DiMarco, 2005., Wong, 2009)
Kebutuhan kenyamanan psikospiritual termsuk kebutuhan untuk kebutuhan kepercayaan diri, motivasi dan kepercayaan agar klien lebih tenang ketika menjalani prosedur invasif yang menyakitkan atau trauma yang tidak dapat segera sembuh. Kebutuhan ini sering dipenuhi dengan tindakan keperawatan yang menenangkan bagi jiwa klien serta ditargetkan untuk trasedensi seperti pijat, perawatan mulut, penunjang khusus, sentuhan dan kepedulian. Fasilitasi diri untuk strategi menghibur dan kata-kata motovasi. Tindakan ini termasuk intervensi khusus karena perawat sering sulit meluangkan waktu untuk melaksanakannya tetapi apabila perawat menyempatkan diri maka tindakannya akan sangat bermakna. Tindakan ini dapat memfasilitasi klien dan keluarga mencapai transendence. Transendensi merupakan faktor kunci dalam kematian klien (kolcaba dan Dimarco, 2005., Wong, 2009)
Kebutuhan kenyamanan sosiocultural adalah kebutuhan untuk jaminan budaya, dukungan, bahasa tubuh yang positif dan caring. Kebutuhan ini terpenuhi melalui pembinaan yang mencakup sikap optimisme, pesan-pesan kesehatan dan dorongan semangat, penghargaan terhadap pencapaian klien, persahabatan perawat selama bertugas, perkembangan informasi yang tepat tentang setiap aspek yang berhubungan dengan prosedur, pemulihan kesadaran, setelah anastesi, rencana pemulangan dan rehabilitasi. Kebutuhan sosial ini juga termasuk kebutuhan keluarga untuk keuangan, bantuan pekerjaan, menghormati tradisi budaya dan kadang-kadang untuk persahabatan selama rawat inap jika unit keluarga memiliki jaringan sosial yang terbatas. Rencana pemulangan juga membantu memenuhi kebutuhan sosial untuk transisi perpindahan perawatan dari rumah sakit ke rumah. Misalnya diskusi tentang rencana pemakaman dan membantu dengan berkabung dalam situasi khusus klien (kolcaba dan Dimarco, 2005., Wong, 2009).
Kebutuhan kenyamanan lingkungan meliputi ketertiban, ketenangan, perabotan yang nyaman, bau yang minimal dan keamanan. Kebutuhan ini juga termasuk perhatian dan saran pada klien dan keluarga untuk beradaptasi dengan lingkungan kamar rumah sakit. Ketika perawat tidak mampu untuk menyediakan lingkungan benar-benar tenang, perawat dapat membantu klien dan keluarga untuk mampu menerima kekurangan dari pengaturan yang ideal. Namun perawat harus mampu untuk melakukan upaya mengurangi kebisingan, cahaya lampu dan gangguan istirahat tidur dalam rangka memfasilitasi lingkungan yang meningkatkan kesehatan klien (kolcaba dan Dimarco, 2005., Wong, 2009).
4.      Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan setelah implementasi. Beberapa instrumen telah dikembangkan untuk mengukur pencapaian tingkat kenyamanan. Perawat dapat menggunakan bebebrapa instrumen untuk menilai peningkatan kenyamanan klien seperti behaviors cheklist ataupun childrens comfort disiases sesuai dengan usia klien (kolcaba dan Dimarco, 2005., Wong, 2009).


APLIKASI TEORI KENYAMANAN PADA KASUS ANAK 
DI RUANG RAWAT NON BEDAH
  
A.    Pengkajian pengalaman kenyamanan pada kontak fisik
Klien adalah seorang anak berusia 15 tahun, perempuan, dirawat diruang rawat non bedah dengan diagnosis medis demam tipoid. Keluhan saat ini, kklien mengeluh mual, pusing dan lemas. Sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang sama. Pengukuran tanda-tanda vital; tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 96 kali per menit, suhu 36,40C. Berat badan klien sekarang 43 Kg, tinggi badan 155 cm. Pemeriksaan fisik didapatkan data konjungtiva tidak anemis, suara nafas vesikuler, bising usus 8 kali per menit, hepar tidak teraba. Hasil pemeriksaan laboratorium; Hb 14,9, Ht 45, trombosit 210.000, widal titer O: 1/320 widal titer H 1/160. Saat ini mendapatkan terapi acran injeksi 3x25 mg (IV), Tricefin 2x1 gr (drip dekstrose 5% 100 cc)
B.     Pengkajian pengalaman kenyamanan pada konteks psikospiritual
Ibu mengatakan klien adalah anak yang percaya diri dan mudah bergaul, mempunyai banyak teman dan merasa sedih karena tidak dapat berkumpul dengan mereka selama sakit. Kklien merasa sangat senang ketika dijenguk oleh teman-temannya di rumah sakit. Klien teratur melaksanakan ibadah agama dan berdoa dirumah. Sejak diraawat klien tidak melaksanakan ibadah karena kondisi tubuh yang lemah, klien belum menarche, informasi tentang pubertas didapatkan dari majalah dan cerita teman. Orang tua memberikan penjelasan apabila klien bertanya.
C.     Pengkajian pengalaman kenyamanan pada konteks lingkungan
Keluarga dan klien merasa nyaman dengan lingkungan kamar. Ruangan kamar menggunakan AC dengan pengharum ruangan, satu kamar untuk 2 pasien dengan lampu penerangan masing-masing klien. Terdapat sofa untuk keluarga. Kamar mandi bersih dan nyaman. Namun demikian anak dan keluarga ingin segera pulang ke rumah.
D.    Pengkajian pengalaman kenyamanan pada kontek sosiokultural
Klien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayah tidak pernah menjenguk kerena bekerja sebagai supir di kedutaan besar. Anak tidak sedih berpisah dari ayah karena ayahnya bekerja. Klen lebih dekat dengan ibu dibandingkan dengan ayah.

Relief
Ease
Trancenden
Fisik
Mual, pusing, lemas, konjungtiva anemis


Psikospiritual

Anak menyesal berpisah dengan teman-temannya
Anak senang dijenguk teman-temannya
Lingkungan

Anak dan keluarga ingin segera pulang
Keluarga dan klien merasa nyaman
Psikocultural


Anak tidak sedih berpisah dengan ayahnya kerana ayahnya bekerja
Diagnosa keperawatan terdiri atas (1) pengalaman fisik meliputi resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient, mual berhubungan iritasi intestinum dan intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum. (2) pengalaman psikososial, merupakan gangguan proses keluarga berhubungan dengan krisis perkembangan.





E.     Intervensi keperawatan
Diagnosa keperawatan terkait resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient dengan tujuan tidak terjadi penurunan berat badan.
Intervensi kenyamanan
Tindakan keperawatan
Standard comfort
Kaji ulang pola makan klien sebelum sakit dan sesudah sakit
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diit klien selama sakit dan setelah kembali ke rumah
Timbang berat badan klien setiap hari dengan neraca timbangan yang sama
Coahing
Ajarkan pada keluarga untuk membuat jadwal makan kklien selama di rumah
Kenalkan kepada keluarga bahan makanan yang baik untuk pertumbuhan klien
Comfort food for the soul
Dampingi keluarga untuk menyusun menu sesuai dengan anjuran ahli gizi
Ciptakan suasana yang menyenangkan pada saat makan’
Berikan kebebasan pada klien untuk memilih menu makanan sesuai daftar anjuran.

  Diagnosa keperawatan terkait mual berhubungan dengan iritasi intestinum dengan tujuan rasa mual berkurang, tidak mengganggu aktifitas makan.
Intervensi kenyamanan
Tindakan keperawatan
Standard comfort
Kaji ulang intensitas mual, faktor yang memperberat mual dan meringankan mual
Berikan acran injeksi 3x25 mg (IV)
Berikan tricefin 2x1 gr (drip dekstrose 5% 100cc)
Coaching
Jelaskan pada anak penyebab munculnya mual
Comfort food for the soul
Ajarkan pada klien teknik imagery guidance
Libatkan keluarga dalam latihan imagery guidance

Diagnosa keperawatan terkait intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum dengan tujuan klien mampu beraktivitas sesuai toleransi.
Intervensi kenyamanan
Tindakan keperawatan
Standard comfort
Kaji ulang aktifitas klien sebelum dan sesudah sakit
Ukur nadi, frekuensi pernafasan, tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan aktifitas
Pembatasan aktifitas klien;bedrest
Coaching
Ajarkan pada anak untuk mengukur nadi sebelum dan sesudah aktifitas
Ajarkan pada keluarga tanda-tanda intoleransi aktifitas
Comfort food for the soul
Dampingi anak melakukan aktifitas yang digemari yang dapat dilakukan diatas tempat tidur
Diagnosa keperawatan terkait gangguan proses keluarga berhubungan dengan krisis perkembangan.
Intervensi kenyamanan
Tindakan keperawatan
Standard comfort
Kaji ulang hubungan ayah dan klien
Kaji ulang pola asuh orang tua
Coaching
Jelaskan pada keluarga perkembangan remaja yang sedang dialami oleh klien
Jelaskan peran orang tua yang memiliki anak remaja
Anjurkan pada keluarga untuk menghargai pola pikir anak
Comfort food for the soul
Berikan privasi pada anak untuk mengungkapkan perasaannya terhadap pola asuh orang tua



ANALISIS KASUS
A.    Pengkajian rasa nyaman terkait pengalaman fisik
Pengkajian rasa nyaman terkait dengan pengalaman fisik klien dapat dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan fisik. Secara umum perawat mengobservasi keadaan klien, mengamati sikap tubuh klien, perilaku yang menunjukan ketidaknyamanan. Observasi dilakukan dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan hemodinamik juga dapat memberikan gambaran rasa tidak nyaman klien. Pengkajian secara menyeluruh dapat dilakukan dengan pemeriksaan head to toe. Data antropometri melengkapi data pemeriksaan head to toe. Pemeriksaan ini mendukung masalah ketidaknyamanan fisik klien.
Anak yang dirawat di rumah sakit datang dengan keluhan utama. Keluhan ini dapat terkait dengan riwayat kesehatan masa lalunya. Gangguan kesehatan anak dapat pula disebabkan karena penurunan fungsi imunitas sehingga perlu dikaji riwayat imunisasi anak. Pergeseran status kesehatan anak dapat terjadi karena gangguan fungsi fisiologis sistem maupun organ. Gangguan ini dapat diperiksa dengan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium, foto rontgen dan pemeriksaan penunjang lainnya. Hasil pemeriksaan penunjang dapat memperkuat dugaan penyebab rasa tidak nyaman anak secara fisik
B.     Pengkajian rasa nyaman terkait pengalaman psikospiritual
Pengkajian rasa nyaman terkait psikospiritual mencakup kepercayaan diri, motivasi dan kepercayaan terhadap Tuhan. Pengkajian psikospiritual pada anak disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Pencapaian tahap perkembangan psikoseksual termasuk dalam pengalaman psikospiritual karena akan berpengaruh terhadap kepercayaan diri anak. Pada kasus ini remaja dikaji tahap perkembangan pubertasnya, gambaran diri dan nilai diri. Remaja mengalami masa peralihan antara masa anak-anak dan dewasa sehingga terjadi perubahan psikoseksual. Perubahan bentuk fisik sebaiknya dapat diterima dengan baik oleh anak sehingga terbentuk rassa percaya diri dan gambaran diri yang baik. Remaja yang sakit dan dirawat dirumah sakit dapat terganggu privasinya karena harus berbagi kamar dengan orang lain. Bila perubahan ini tidak dapt diterima oleh anak maka dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
C.     Pengkajian rasa nyaman terkait pengalaman sosiokultural.
Pengkajian sosiokultural mencakup perkembangan sosial anak baik interpesonal maupun intrapersonal. Lingkungan sosial yang banyak berinteraksi dengan anak adalah keluarga. Kondisi hubungan dalam keluarga banyak dikaji dalam aspek ini. Masalah yang muncul antara pemberi asuhan dengan anak akan menimbulkan rasa tidak nyaman secara sosial. Anak remaja mengalami perubahan dalam menjalin hubungan. Remaja tidak lagi banyak terikat dengan hubungan orang tua dan anak tetapi lebih banyak terlubat hubungan dengan kelompoknya yang mempunyai nilai-nilai tersendiri.
Nilai yang dianut oleh remaja dan kelompoknya tidak selalu sama dengan nilai yang dapat diterima oleh masyarakat secara umum. Mungkin saja nilai tersebut sejalan atau bertentangan dengan nilai kultural. Perubahan ini sebaiknya dapat diantisipasi oleh keluarga dan masyarakat. Sehingga tidak muncul ketegangan peran pemberi asuhan dan ketegangan di lingkungan masyarakat. Apabila timbul ketegangan-ketegangan maka dapat menimbulkan masalah ketidaknyamanan sosiokultural.
Remaja yang dirawat di rumah sakit akan terpisah dari kelompoknya untuk sementara waktu. Perpisahan dengan kelompoknya ini akan menimbulkan rasa isolasi pada diri remaja. Isolasi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman secara sosial pada diri anak. Remaja menjadi lebih sedih berpisah dengan teman-temannya daripada berpisah dengan keluarganya. Keluarga mengalami perubahan terkait perawatan anak dirumah sakit. Ibu yang biasanya berperan sebagai ibu rumah tangga harus meninggalkan rumah untuk menunggu anak yang sakit di rumah sakit. Ayah yang mencari nafkah terganggu rutinitasnya karena anak dirumah sakit. Perubahan sementasra pada remaja yang Menjalani perawatan di rumah sakit dapat mengakibatkan adanya ketidaknyamanan secara sosiokultural.
D.    Pengkajian rasa nyaman terkait pengalaman lingkungan.
Pengkajian lingkungan pada teori kenyamanan ini mencakup respon adaptasi anak dan keluarga terhadap lingkungan fisik di rumah sakit. Lingkungan yang berbeda ini dapat menjadi suatu stressor tersendiri bagi anak dan keluarga . stressor ersebut dapat berupa cahaya lampu kamar, kebisingan atau suara suara yang tidak bisa didengar seperti suara mesin, suara alat alat kesehatan, suhu yang mungkin dingin atai terlalu panas/ apabila anak dan keluarga tidak dapat beradapasi maka akan timbul rasa tidak nyaman terhadap lingkungan ( Peterson dan Bredow. 2004., Kolbaca, 2003 )
E.     Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan dapat dianalisa dari sruktur taksonomi kenyamanan.  Analisa dilakukan terhadap ketiga tingkat kenyamanan yang dikaitkan dengan pengalaman fisik, pskikospiritual, sossiokulural dan lingkungan anak  dan keluarga. Daa yang meniunjukkan perubahan homeostatis dan respon fisiologi anak termasuk didalam diagnosis rasa tidak nyaman fisik pada level relief karena nakan merasa pusing, mual, lemas, dan konjungtiva anemis .
Pengalamna psikospiritual anak mengalami rasa tidak nyaman pada level ease karena anak merasa  sedih berpisah dengan teman – temannya. Rasa nyaman meningkat pada level transcendence ketika teman – teman klien menengok ke rumah sakit. Klien merasa senang ditengok oleh teman- temannya. Anak belum dapat berkumpul beraktifitas speri biasa bersama kelompoknya tetapi nakan sudah merasa sengat sennag dengan ditengok teman- temannya.
Pengalaman sosiokultural nakan mengalami masalah pada level transcendence karena anak merasa tidak sedih berpisah dengan ayahnya, hal ini menunjukkan bahwa hubungan anakd dengan ayahnya tidak dekat. Ketidak eratan hubungan ini dapat disebabkan karena orang tua belum siap  menghadapi perubahan anaknya yang beranjak remaja. Kondisi ini beresiko terhadap ketegangan pemberi asuhan. Anak dan keluraga mengalami rasa nyaman pada levcel trancedence karena  anak dan keluraga ingin segara pulang kerumah. Anak dfan kelurga sudah mulai erbiasa dengan  lingkungan kamar.
F.      Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan berfokus pada peningkatan rasa nyaman nakn dan keluarga. Pengkajian keperawatan menggunakan taksonomi. Kenyamanan tidak memerlukan waktu yang lama untuk merngkaji sehingga perawat mempunyai waktu yang lama untuk mengkaji sehingga  perawat mempunyai waktu luang untuk melakukan intervensi. Intervensi dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis intervensi yaitu intervensi standar, pendampingan atau pelatihan dan tindakan kenyamanan ekstra perawat. Masing – masing pengalaman kenyamanan berbeda  focus intervensinya. Pengalaman fisik lebih banyak tindakan standardaripada kedua tindakan lainnya salah satu contoh tindakan standar adalah mempertahankan hemeostatis. Pengalaman sosiokultural lebih banyak tindakan pendampingan atau pelatihan daripada kedua tindakan lainnya
G.    Implementasi & Evaluasi
Intervensi keperawatan diimplementasikan kemudian dievaluasi. Evaluasi menggunakan instrument yang berbeda – beda antara klien tergantung dan tingak peekembangan anak. Kenyamanan klien yang tekah tercapai akan dibandingkan dengan tujuan tindakan keperawatan. Kemudian perawat akan menyususn kembali rencana keperawaan untuk meningkatkan maupun mempertahankan kenyamanan yang telah sampai pada level trancedence. Proses inilah yang disebut dengan intervensi yang intens. Dengan demikian diharapkan kenyamanan klien dan keluarga akan selalu meningkat
H.    Aspek Positof Aplikasi Teori Kenyamanan pada Area Keperawatan Anak
Aspek positif aplikasi teori kenyaman pada area keperaeatan anak terdiri atas (1) teori kenyaman sederhan sehingga dapat langsung diaplikasikan pada tingkat praktis, (2) instrument pengkajian telah disusun untuk mengukur level kenyamanan klien sehingga dapat membantu perawat menyusun intervensi comfort, (3) instrument kenyamanan dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat kenyamanan dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat kenyamanan klien maupun keluarganya sehingga sesuai dengan filosofi keperawatan anak yaitu family canter care ( perawatan berpusat pada keluarga ), dan (4) intervensi kenyamanan bertujuan meningkatkan rasa nyaman sehingga menjadi pengalaman yang positif bagi anak dan keluarganya, hal ini sesuai dengan filosofi keperawatan anak atraumatic care
I.       Aspek Negatif Aplikasi teori kenyamanan pada Area keperawatan Anak
Aspek  negative aplikasi teori kenyamanan pada area keperawatan anak terdiri atas (1) tingkat perkembangan anak berbeda – beda sehingga tidak semua instrument pengkajian kenyamanan dapat diterapkan disemua tahap usia anak, (2) diperlukan format pengkajian khusus karena keempat pengalaman nyaman anak akan berbeda di setiap tahap perkembangan, dan (3) intervensi keperawatan telah dikelompokkan tetapi diagnosis keperawatan belum dikelompokkan secara khusus.

J.       Implikasi Aplikasi teori kenyamanan pada Asuhan Keperawatan Anak
Implikasi aplikasi teori kenyaman pada asuhan keperawatan anak terdiri atas (1) teori kenyamanan mempunyai kerangka kerja yang dapat menjadi panduan praktik keperawatan yang holistic dan harus didokumetasikan dengan baik, (2) hasil yang diharapakandari tindakan keperawatan erkait klien dengan HSBs  dan untuk pencapaian institusi yang lebih baik, (3) kerangka konseptual teori kenyamanan tidak akan tercapai tanpa dukungan dan komitmen institusi pelayanan kesehatan, dan (4) kerangka konseptual teori kenyamanan tidak hanya diaplikasikan pada area praktik tetapi dapat juga diaplikasikan pada level staff dan pola interdisiplin untuk mencapai tujuan kenyamanan secara khusus.

PENUTUP
A.    Kesimpulan   
     Asuhan keperawatan anak mempunyai filosofi asuhan atraumatik dan asuhan berpusat pada keluarga. Stressor yang terdapat di lingkungan non bedah dapat berupa stressor fisik yang muncul dari tindakan stressor lingkungan berupa kebisingan maupun sushu ruangan dan stressor perpisahan dengan orang tua. Masalah dalam setiap tahap kenyamanan  diatasi dengan intervensi kenyamanan yang terdiri dari tiga komponen yaitu intervensi yang sesuai dan tepat waktu, model perawatan yang perhatian dan emapti yang berfokus pada kenyamanan pasien. Tindakan keperawatan dikelompokkan dalam 3 jenis tindakan yaitu (a) intevensi kenyamanan standar untuk mempertahankan homeostatis  dan mengontrol rasa sakit, (b) pelatihan/coaching, untuk meredakan kecemasan, memberikan jaminan dan informasi menanamkan harapan, mendengarkan, dan membantu merencanakan pemulihan, dan (c)  tindakan yang menenangkan bagi jia, hal hal menyenangkan yang perlu dilakukan oleh perawat untuk membuat anak dan keluargamerasa diperhatikan  

DAFTAR PUSTAKA
Kolbaca, Katharine., DiMarco, Marguerite. 2005. Comfort theory and its application to pediatric nursing . A Pediatric nursing . 31, 187 – 94.
Kolbaca Katharine. 2003. Comfort theory and practice: a vision for holistic helath care and research. New York : Springer Publishing Company
Peterson, Sandra. J., Bredow, Timothy S/ 2004. Midle ranger theoriesapplication to nursing research. Philadelphia : Lippincott Williamas & Wilkins
Sitzman, Katheleen L., Eichelberger, Lisa Wrigh. 2011. Understanding the work of nurse theorist : a creative beginning. Ed 2nd. Ontario: Jones and Bartlett Publisher
Wong, Donna L., Eaton, Maryln Hockenberry, dkk. 2009.wong buku ajar keperawatan pediatric vil 1. Jakarta. EGC