Sabtu, 25 Februari 2017

SOAL UJIAN KEPERAWATAN DEWASA 1



Seorang bapak dengan usia 30 tahun dirawat di high care unit dengan CHF. Diketahui BB 90 kg, TB 165 cm. Klien diberikan Infus NaCl 500 ml dalam waktu 5 jam (makro).
Soal :
  1. Berapakah nilai BMI pada pasien tersebut diatas dan kategorinya. (20 point)
  2. Berapakah berat badan ideal pasien tersebut. (20 point)
  3. Berapakah jumlah tetesan infus yang dapat diberikan pada pasien tersebut. (20 point)
  4. Berapakah perkiraan jumlah urine dan balance cairan pada pasien tersebut dalam satu shiftnya. (20 point)

Selamat bekerja

Jumat, 24 Februari 2017

LANGKAH MUDAH MENGINTERPRETASI HASIL GAS DARAH ARTERI


Menginterpretasi gas darah arteri (ABG) adalah keterampilan penting bagi dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Interpretasi gas darah arteri biasanya dilakukan pada pasien-pasien kritis. 

Terdapat enam langkah yang memudahkan tenaga kesehatan untuk menginterpretasikan hasil gas darah arteri. Terdapat banyak metode yang dapat dijadikan panduan untuk untuk memandu penafsiran ABG. Diskusi kali ini tidak mencakup beberapa metode, seperti analisis dasar kelebihan atau perbedaan ion kuat Stewart. 

6 langkah interpretasi gas darah arteri (ABG). 

Langkah 1. nilailah konsistensi setiap hasil menggunakan persamaan Henderson-Hasselbalch: 
    Ingat : Jika pH dan [H +] tidak konsisten, ABG mungkin tidak valid 
               (cocokan dengan tabel berikut) 


Langkah 2.  Lihat, apakah terdapat alkalosis atau asidosis ?

                       pH < 7.35  asidosis
                       pH > 7.45  alkalosis
    Ingat : 
  • Jika tidak berada dalam kisaran 7.35-7.45, Hal ini biasanya menunjukan gangguan primer 
  • Asidosis atau alkalosis mungkin muncul bahkan jika pH dalam kisaran normal (7,35-7,45) 
  • Anda perlu memeriksa hasil PaCO2, HCO3- dan gap anion


Langkah 3. Apakah gangguannya merupakan gangguan respirasi atau metabolik? 
                  Apakah terdapat hubungan antara arah perubahan pH dan arah perubahan  
                               dalam PaCO2?  
                  Pada gangguan respirasi primer, perubahan pH dan PaCO2 berbeda arah;
                  Pada gangguan metabolisme pH dan PaCO2 berubah ke arah yang sama. 


Langkah 4. Apakah ada kompensasi yang sesuai pada gangguan primer?  
                  Biasanya, kompensasi tidak mengembalikan pH ke arah normal (7,35-7,45).
Ingat. Jika tidak terdapat kompensasi, ada kemungkinan terdapat muncul lebih dari satu gangguan asam-basa. 


 Langkah 5. Hitung gap anion (jika terdapat asidosis metabolik):  
                   AG = [Na +] - ([Cl-] + [HCO3-]) -12 ±2  
                   Gap anion normal:  sekitar 12 meq/L.  
  1.  Pada pasien dengan hipoalbuminemia, anion gap normal <12 meg/L; biasanya sekitar 2,5 meq/L. 
  2. Jika anion gap yang dinaikan, pertimbangkan untuk menghitung kesenjangan osmolal dalam situasi klinis yang kompatibel.  


Langkah 6. Jika terdapat peningkatan anion gap, cek hubungan antara peningkatan anion gap dan
                  penurunan  [HCO3-].
  • Rasio ini harus dalam rentang 1,0 dan 2,0 jika terdapat asidosis anion gap metabolik.
  • Jika rasio ini berada jauh dari kisaran ini, maka terdapat gangguan metabolisme:  
  1. Jika  ∆AG/∆[HCO3-] < 1.0, maka non-anion gap asidosis metabolik kemungkinan akan muncul.
  2. Jika ∆AG/∆[HCO3-] > 2.0, maka alkalosis metabolik kemungkinan akan muncul.
Ingat : Jika anda menginginkan nilai gap anion normal, maka anda harus menyesuaikan hasil
           perhitungan dengan pasien hypoalbuminemia (lihat langkah 5) 

 karakteristik gangguan asam basa




penyebab etiologi respiratorik
penyebab alkalosis respiratorik

penyebab alkalosis dan asidosis metabolik

gangguan asam basa campuran

References. 
  • Rose, B.D. and T.W. Post. Clinical physiology of acid-base and electrolyte disorders, 5th ed. New York: McGraw Hill Medical Publishing Division, c2001.
  • Fidkowski, C And J. Helstrom. Diagnosing metabolic acidosis in the critically ill: bridging the anion gap, Stewart and base excess methods. Can J Anesth 2009;56:247-256.
  • Adrogué, H.J. and N.E. Madias. Management of life-threatening acid-base disorders—first of two parts. N Engl J Med 1998;338:26-34.
  • Adrogué, H.J. and N.E. Madias. Management of life-threatening acid-base disorders—second of two parts. N Engl J Med 1998;338:107-111. 

Selasa, 21 Februari 2017

Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR TB)


Apa tuberkulosis (TB)?

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyebar dari orang ke orang melalui udara. TB biasanya mempengaruhi paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh, seperti otak, ginjal, atau tulang belakang. Dalam kebanyakan kasus, TB dapat diobati dan disembuhkan; Namun, orang dengan TB dapat mati jika mereka tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. 

 
Apa itu multidrug-resistant tuberculosis (MDR TB)?

Multidrug-resistant TB (MDR TB) disebabkan oleh organisme yang tahan terhadap  isoniazid dan rifampisin. Kedua obat ini merupakan dua obat TB yang paling ampuh dan selalu digunakan untuk mengobati semua orang dengan penyakit TB.

 
Apa jenis obat TBC yang resisten secara luas teirhdap TBC (XDR TB)?

Ekstensif obat TB resisten (XDR TB) adalah jenis
MDR TB langka yang resisten terhadap isoniazid dan rifampisin, ditambah fluorokuinolon apapun dan setidaknya salah satu dari tiga obat lini kedua yang diinjeksi (yaitu, amikasin, kanamisin, atau kapreomisin).  XDR TB menjadi perhatian khusus untuk orang dengan infeksi HIV atau kondisi lain yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Derajat keparahan penyakit yang diidap oleh orang-orang ini makin berat setelah mereka terinfeksi dan juga memiliki risiko kematian lebih tinggi.

Bagaimana penyebaran TB?

Rentan terhadap obat TB dan TB yang resistan terhadap obat tersebar dengan cara yang sama. Bakteri TB masuk ke udara ketika seseorang dengan penyakit TBC batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi. Bakteri ini dapat melayang di udara selama beberapa jam, tergantung pada lingkungan. Orang yang menghirup udara yang mengandung bakteri TB ini menjadi terinfeksi. 


Bagaimana resistensi obat terjadi?

Resistensi terhadap obat anti-TB dapat terjadi ketika obat ini disalahgunakan atau salah urus. Contohnya  ketika pasien tidak menyelesaikan satu fase penuh pengobatan; ketika penyedia layanan kesehatan meresepkan pengobatan yang salah, dosis yang salah, atau lamanya waktu untuk mengambil obat; ketika pasokan obat tidak selalu tersedia; atau ketika obat yang berkualitas buruk.



 
Siapa yang berisiko terkena TB-MDR ?

Resistensi obat lebih sering terjadi pada orang yang:
  1. Tidak minum obat TB secara teratur 
  2. Tidak mengambil semua obat TB yang diberikan oleh petugas kesehatan 
  3. Terserang kembali penyakit TB setelah pernah menjalani pengobatan TB di masa lalu
  4. Berasal dari daerah di dunia yang penduduknya sebagian besar mengidap TB resistant 
  5. hidup dengan seseorang yang diketahui memiliki penyakit TB yang resistan terhadap obat
Bagaimana bisa MDR TB dicegah?

Hal paling penting yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran TB-MDR  adalah menjalani dan menuntaskan semua fase pengobatan TBC yang disarankan oleh penyedia layanan kesehatan. Pasien harus memberitahu setiap petugas kesehatan jika mereka mengalami kesulitan mengambil obat. Jika pasien berencana bepergian, mereka harus menguhubungi petugas kesehatan dan memastikan bahwa mereka memiliki cukup obat saat melakukan perjalanan.
Petugas kesehatan dapat membantu mencegah TB-MDR  dengan cara cepat mendiagnosa kasus, mengikuti pedoman pengobatan direkomendasikan, pemantauan respon pasien terhadap pengobatan, dan memastikan terapi selesai.

 
Cara lain untuk mencegah penyebaran TB-MDR adalah menghindari paparan langsung dengan pasien TB MDR. Tempat yang sangat rentan terjadi penyebaran adalah tempat-tempat tertutup atau penuh sesak seperti rumah sakit, penjara, atau tempat penampungan tunawisma. Jika Anda bekerja di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan di mana terdapat pasien TB Anda harus berkonsultasi dengan bagian pengendalian infeksi atau ahli kesehatan kerja. Tanyakan tentang prosedur administrasi untuk mencegah paparan TB. Setelah prosedur tersebut dilaksanakan, langkah-langkah tambahan bisa termasuk menggunakan alat pelindung pernapasan pribadi.

Apakah ada vaksin untuk mencegah TB?

Ya, ada vaksin untuk penyakit TB disebut Bacille Calmette-Guerin (BCG). Hal ini digunakan di beberapa negara untuk mencegah TB pada anak. Namun, BCG umumnya tidak dianjurkan di Amerika Serikat karena terbukti tidak efektif lagi untuk mencegah TB secara keseluruhan.



 Apa yang harus saya lakukan jika saya pikir saya telah terpapar dengan seseorang dengan penyakit TBC? 
Jika Anda berpikir Anda telah terpapar seseorang dengan penyakit TBC, Anda harus menghubungi puskesmas untuk mendapatkan tes tuberculin atau TB tes darah. anda harus memberitahu dokter atau perawat bahwa anda baru saja menghabiskan waktu dengan orang tersebut.
 

Apa saja gejala penyakit TB?

Gejala umum penyakit TB meliputi perasaan sakit atau lemah, berat badan menurun drastis, demam, dan berkeringat di malam hari. Gejala-gejala penyakit TB paru mungkin juga termasuk batuk, nyeri dada, dan batuk darah. Gejala penyakit TBC di bagian lain dari tubuh tergantung pada daerah yang terkena. Jika Anda memiliki gejala-gejala ini, Anda harus menghubungi petugas kesehatan.

Minggu, 12 Juli 2015

MANAJEMEN PENANGANAN STROKE ISKEMIK : Part 2. Palliative care dan Clinical education

Palliative care
       Perawatan paliatif merupakan komponen penting dalam perawatan stroke yang komprehensif. Hanya beberapa pasien stroke yang akan pulih sedangkan yang lainnya akan mengalami kelemahan sehingga terapi yang tepat adalah meningkatkan kenyamanan mereka. Beberapa pasien dapat diberikan arahan untuk mengikuti pengobatan saat pasien masuk ke pusat pelayanan kesehatan. 

Clinical education
      Penyedia layanan pra-rumah sakit sangat penting untuk perawatan stroke yang tepat waktu. Kurikulum kursus untuk penyedia layanan pra-rumah sakit sangat penting dilakukan. Melalui sertifikasi Acute Cardiac Life Support (ACLS) serta melalui pendidikan keperawatan, penyediaan layanan pra-rumah sakit dapat tetap berjalan dan dapat dilakukan pada pasien stroke akut yang membutuhkan layanan cepat. Alat-alat penunjang perawatan stroke tahap akut pra-rumah sakit dan protokol triase dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tanggap stroke pada mereka sendiri.

MANAJEMEN PENANGANAN STROKE ISKEMIK : Part 1. Pertimbangan dan Pendekatan

Penumbra in Stroke Ischaemic

      Tujuan utama terapi pada stroke iskemik akut adalah untuk melindungi dan melestarikan jaringan penumbra  di mana perfusi jaringan menurun tetapi tidak terjadi infark. Jaringan di daerah ini mengalami penurunan aliran darah sehingga tindakan yang harus dilakukan adalah mengembalikan aliran darah dan mengoptimalkan aliran kolateral. Ingin melihat video penumbra klik disini


recombinant tissue-type plasminogen activator (rt-PA)

Sabtu, 11 Juli 2015

STROKE ISKEMIK

        
Stroke iskemik terjadi sebagai akibat dari obstruksi dalam pembuluh darah sebagai memasok darah ke otak. Kondisi yang mendasari jenis obstruksi adalah perekembangan deposit lemak yang melapisi dinding pembuluh darah. Kondisi ini disebut aterosklerosis. Deposit lemak ini dapat menyebabkan dua jenis obstruksi: yaitu trombosis otak dan emboli serebral. 
        
Trombosis otak terjadi akibat bekuan darah yang berkembang semakin membesar dan menghalangi aliran darah. Sedangkan emboli serebral mengacu pada gumpalan darah yang terbentuk di lokasi lain dalam sistem peredaran darah, biasanya jantung dan arteri besar dada bagian atas dan leher. Sebagian dari bekuan darah lepas, memasuki aliran darah dan berjalan melalui pembuluh darah otak hingga mencapai pembuluh darah yang paling kecil. Penyebab penting kedua emboli adalah denyut jantung tidak teratur, yang dikenal sebagai atrial fibrilasi. Atrial fibrilasi menciptakan kondisi di mana bekuan darah dapat terbentuk di hati dan beredar ke otak.  


Silent infark serebral (SCI), atau "silent stroke," adalah cedera otak yang disebabkan oleh gumpalan darah yang mengganggu aliran darah di otak. Ini merupakan faktor risiko penyebab stroke di masa depan yang dapat menyebabkan kerusakan otak progresif. Video selengkapnya dapat dilihat di sini  

Sumber :  http://www.strokeassociation.org.

Selasa, 15 April 2014

Teori keperawatan Medeleine Leinenger

Teori keperawatan Medeleine Leinenger
                                                                                      
Medeleine Leininger membuat model konseptual tentang pemberian traskultural. Hal ini menghasilkan konsep kerangka kerja pemberian asuhan transkultural yang mengakui adanya perbedaan (diversitas), dan persamaan (universalitas) dalam pemberian asuhan di budaya yang berbeda.
Beberapa inti dari model teorinya
1.    Asuhan membantu, mendukung atau membuat seorang atau kelompok yang memiliki kebutuhan nyata agar mampu memperbaiki jalan hidup dan kondisinya.
2.    Budaya diekspresikan sebagai norma-norma dan nilai-nilai kelompok tertentu.
3.    Asuhan transkultural perawat secara sadar mempelajari norma-norma, nilai-nilai dan cara hidup budaya tertentu dalam rangka memberikan bantuan dan dukungan dengan tujuan untuk membantu individu mempertahankan tingkat kesejahteraanya.
4.    Keanekaragaman asuhan kultural mengakui adanya variasi dan rentang kemungkinan tindakan dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.
5.    Universalitas asuhan kultural merujuk pada persamaan atau karakteristik universal, dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.

Hubungan model dan paradigm keperawatan
1.    Manusia: seseorang yang diberi perawatan dan harus diperhatikan kebutuhannya
2.    Kesehatan: konsep yang penting dalam perawatan transkultural
3.    Lingkungan: tidak didefinisikan secara khusus, namun jika dilihat bahwa telah terwakili dalam kebudayaan, maka lingkungan adalah inti utama dari teori Leininger
4.    Keperawatan: beliau menyajikan 3 tindakan yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu cultural care preservation, accomodation dan repaterning.

Hubungan teori Leininger dengan konsep holism
Holistic artinya menyeluruh. Perawat perlu melakukan asuhan keperawatan secara menyeluruh/holistic care, hal ini dikarenakan objek keperawatan adalah manusia yang merupakan individu yang utuh sehingga dengan asuhan keperawatan terhadap individu harus dilakukan secara menyeluruh dan holistic.
Asuhan holistic maupun menyeluruh, individu diperlakukan secara utuh sebagai individu/ manusia, perbedaan asuhan keperawatan menyeluruh berfokus memadukan berbagai praktek dan ilmu pengetahuan kedalam satu kesatuan asuhan. Sedangkan asuhan holistic berfokus pada memadukan sentiment kepedulian dan praktek perawatan ke dalam hubungan personal-profesional antara perawat dan pasien yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan pasien sebagai individu yang utuh.
Leininger dengan teori modelnya telah dengan jelas memaparkan bahwa asuhan keperawatan yang diberikan pada klien atau kelompok harus mengikutsertakan individu/kelompok secara keseluruhan termasuk aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan menitikberatkan konsep terapi pada kondisi kultural klien.

Hubungan teori Leininger dengan konsep humanism
Perawatan manusia membutuhkan perawat yang memahami prilaku dan respon manusia terhadap masalah kesehatan yang aktual maupun yang potensial, kebutuhan manusia dan bagaimana cara berespon kepada orang lain dan memahami kekurangan dan kelebihan klien dan keluarganya, sekaligus pemahaman kepada dirinya sendiri. Selain itu perawat memberikan kenyamanan dan perhatian serta empati kepada klien dan keluarganya, asuhan keperawatan tergambar pada seluruh faktor-faktor yang digunakan oleh perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan pada klien.
Hubungan dari teori Leininger dan konsep humanism ini bahwa memberikan pelayanan kesehatan pada klien dengan memandang klien sebagai invidu sebagai personal lengkap dengan fungsinya

Kelebihan dan kekurangan teori transcultural dari Leininger
Kelebihan:
1.    Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang berbeda.
2.    Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll).
3.    Penggunakan teori ini  dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit.
4.    Penggunanan teori transcultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan.
5.    Teori ini banyak  digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek keperawatan .

Kelemahan:
1.    Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga  tidak bisa berdiri sendiri dan  hanya  digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya.
2.    Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya.

Tujuan studi praktek pelayanan kesehatan transkultural adalah meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktek kesehatan dalam berbagai budaya (kultur) baik dimasa lalu maupun zaman sekarang, akan terkumpul persamaan-persamaan, sehingga kombinasi pengetahuan tentang pola praktek transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dari berbagai kultur.