Selasa, 15 April 2014

Teori keperawatan Medeleine Leinenger

Teori keperawatan Medeleine Leinenger
                                                                                      
Medeleine Leininger membuat model konseptual tentang pemberian traskultural. Hal ini menghasilkan konsep kerangka kerja pemberian asuhan transkultural yang mengakui adanya perbedaan (diversitas), dan persamaan (universalitas) dalam pemberian asuhan di budaya yang berbeda.
Beberapa inti dari model teorinya
1.    Asuhan membantu, mendukung atau membuat seorang atau kelompok yang memiliki kebutuhan nyata agar mampu memperbaiki jalan hidup dan kondisinya.
2.    Budaya diekspresikan sebagai norma-norma dan nilai-nilai kelompok tertentu.
3.    Asuhan transkultural perawat secara sadar mempelajari norma-norma, nilai-nilai dan cara hidup budaya tertentu dalam rangka memberikan bantuan dan dukungan dengan tujuan untuk membantu individu mempertahankan tingkat kesejahteraanya.
4.    Keanekaragaman asuhan kultural mengakui adanya variasi dan rentang kemungkinan tindakan dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.
5.    Universalitas asuhan kultural merujuk pada persamaan atau karakteristik universal, dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.

Hubungan model dan paradigm keperawatan
1.    Manusia: seseorang yang diberi perawatan dan harus diperhatikan kebutuhannya
2.    Kesehatan: konsep yang penting dalam perawatan transkultural
3.    Lingkungan: tidak didefinisikan secara khusus, namun jika dilihat bahwa telah terwakili dalam kebudayaan, maka lingkungan adalah inti utama dari teori Leininger
4.    Keperawatan: beliau menyajikan 3 tindakan yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu cultural care preservation, accomodation dan repaterning.

Hubungan teori Leininger dengan konsep holism
Holistic artinya menyeluruh. Perawat perlu melakukan asuhan keperawatan secara menyeluruh/holistic care, hal ini dikarenakan objek keperawatan adalah manusia yang merupakan individu yang utuh sehingga dengan asuhan keperawatan terhadap individu harus dilakukan secara menyeluruh dan holistic.
Asuhan holistic maupun menyeluruh, individu diperlakukan secara utuh sebagai individu/ manusia, perbedaan asuhan keperawatan menyeluruh berfokus memadukan berbagai praktek dan ilmu pengetahuan kedalam satu kesatuan asuhan. Sedangkan asuhan holistic berfokus pada memadukan sentiment kepedulian dan praktek perawatan ke dalam hubungan personal-profesional antara perawat dan pasien yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan pasien sebagai individu yang utuh.
Leininger dengan teori modelnya telah dengan jelas memaparkan bahwa asuhan keperawatan yang diberikan pada klien atau kelompok harus mengikutsertakan individu/kelompok secara keseluruhan termasuk aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan menitikberatkan konsep terapi pada kondisi kultural klien.

Hubungan teori Leininger dengan konsep humanism
Perawatan manusia membutuhkan perawat yang memahami prilaku dan respon manusia terhadap masalah kesehatan yang aktual maupun yang potensial, kebutuhan manusia dan bagaimana cara berespon kepada orang lain dan memahami kekurangan dan kelebihan klien dan keluarganya, sekaligus pemahaman kepada dirinya sendiri. Selain itu perawat memberikan kenyamanan dan perhatian serta empati kepada klien dan keluarganya, asuhan keperawatan tergambar pada seluruh faktor-faktor yang digunakan oleh perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan pada klien.
Hubungan dari teori Leininger dan konsep humanism ini bahwa memberikan pelayanan kesehatan pada klien dengan memandang klien sebagai invidu sebagai personal lengkap dengan fungsinya

Kelebihan dan kekurangan teori transcultural dari Leininger
Kelebihan:
1.    Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang berbeda.
2.    Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll).
3.    Penggunakan teori ini  dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit.
4.    Penggunanan teori transcultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan.
5.    Teori ini banyak  digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek keperawatan .

Kelemahan:
1.    Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga  tidak bisa berdiri sendiri dan  hanya  digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya.
2.    Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya.

Tujuan studi praktek pelayanan kesehatan transkultural adalah meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktek kesehatan dalam berbagai budaya (kultur) baik dimasa lalu maupun zaman sekarang, akan terkumpul persamaan-persamaan, sehingga kombinasi pengetahuan tentang pola praktek transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dari berbagai kultur.

Teori keperawatan Margareth Newman

Teori keperawatan Margareth Newman

Margaret Newman lahir pada tanggal 10 Oktober 1933 di Memphis Tennessee. Pendidikan yang diperoleh pada tahun 1962 ia menerima gelar sarjananya dalam Keperawatan. Pada tahun 1964 ia menerima gelar Master nya Medical-Surgical Nursing. Pada tahun 1971 ia menyelesaikan Doktor nya Ilmu Keperawatan dan Rehabilitasi.

Konsep Dasar Model Keperawatan Margaret Newman
1.    Kesehatan sebagai kesadaran mengembangkan
Kesehatan Newman sebagai Memperluas Kesadaran dipengaruhi oleh Martha Rogers. Newman (2003) menulis:
Teori kesehatan sebagai perluasan batang kesadaran dari teori Rogers dari Manusia Kesatuan. Asumsi Rogers mengenai pola orang dalam interaksi dengan lingkungan sekitarnya merupakan dasar bagi pandangan bahwa kesadaran merupakan perwujudan dari pola berkembang dari orang-interaksi lingkungan. Pola informasi, yang merupakan kesadaran dari sistem, merupakan bagian dari pola yang lebih besar, tak terbagi dari alam semesta yang mengembang.
Teori Newman pengenalan pola menyediakan dasar untuk proses perawat-klien interaksi. Newman menyarankan bahwa tugas dalam intervensi adalah pengenalan pola dilakukan oleh profesional kesehatan menjadi sadar akan pola orang lain dengan menjadi berhubungan dengan pola mereka sendiri. Newman menyarankan bahwa profesional harus fokus pada pola orang lain, bertindak sebagai "balok acuan dalam hologram".
2.    Asumsi
a.    Kesehatan meliputi kondisi sampai sekarang digambarkan sebagai penyakit, atau, dalam istilah medis, patologi
b.    Kondisi patologis dapat dianggap sebagai manifestasi dari pola total individu
c.    Pola individu yang akhirnya memanifestasikan dirinya sebagai patologi primer dan ada sebelum perubahan struktural atau fungsional
d.   Penghapusan patologi itu sendiri tidak akan mengubah pola indivdual
e.    Jika menjadi sakit adalah satu-satunya cara pola individu dapat terwujud, maka itu adalah kesehatan untuk orang tersebut
f.     Kesehatan merupakan perluasan kesadaran.
3.    Konsep Utama Newman
a.    Kesehatan: menyangkut penyakit dan non penyakit, ekspilasi pola yang mendasari individu dan lingkungan. Sebagai suatu proses perkembangan kesadaran diri dan lingkungan bersama-sama dengan peningkatan kemampuan untuk mempersepsikan alternatif dan berespon dalam berbagai cara.
b.    Pola: apa yang mengidentifikasi individual sebagai seseorang yang khusus
c.    Kesadaran: kapasitas informasional sistem: kemampuan sistem berinteraksi dengan lingkungannya (waktu, pergerakan dan ruang)



Teori Keperawatan Dorothea Orem

Teori Keperawatan Dorothea Orem

Dorothea Orem adalah salah seorang teoritis keperawatan terkemuka di Amerika. Dorothea Orem lahir di Baltimore, Maryland di tahun 1914. Ia memperoleh gelar sarjana keperawatan pada tahun 1939 dan Master Keperawatan pada tahun 1945. Menurut Orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraannya, oleh karena itu teori ini dikenal sebagai Self Care (perawatan diri) atau Self Care Defisit Teori. Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia, dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas Self Care mereka.

Teori Sistem Keperawatan Orem
Teori ini mengacu kepada bagaimana individu memenuhi kebutuhan dan menolong keperawatannya sendiri, maka timbullah teori dari Orem tentang Self Care Deficit of Nursing. Dari teori ini oleh Orem dijabarkan ke dalam tiga teori yaitu ;
1.    Self Care
Perawatan diri sendiri adalah suatu langkah awal yang dilakukan oleh seorang perawat yang berlangsung secara berkelanjutan sesuai dengan keadaan dan keberadannya , keadaan kesehatan dan kesempurnaan. Perawatan diri sendiri merupakan aktifitas yang praktis dari seseorang dalam memelihara kesehatannya serta mempertahankan kehidupannya. Terjadi hubungan antar pembeli self care dengan penerima self care dalam hubungan terapi. Orem mengemukakan tiga kategori / persyaratan self care yaitu: persyaratan universal, persyaratan pengembangan dan persyaratan kesehatan.
2.    Self Care Deficit
Teori ini merupakan inti dari teori perawatan general Orem yang menggambarkan kapan keperawatan diperlukan. Oleh karena perencanaan keperawatan pada saat perawatan yang dibutuhkan. Bila dewasa (pada kasus ketergantungan, orang tua, pengasuh) tidak mampu atau keterbatasan dalam melakukan self care yang efektif.
Teori self care deficit diterapkan bila;
a.    Anak belum dewasa
b.    Kebutuhan melebihi kemampuan perawatan
c.    Kemampuan sebanding dengan kebutuhan tapi diprediksi untuk masa yang akan datang.
3.    Nursing system
Teori yang membahas bagaimana kebutuhan “Self Care” pasien dapat dipenuhi oleh perawat, pasien atau keduanya. Nursing system ditentukan atau direncanakan berdasarkan kebutuhan “Self Care” dan kemampuan pasien untuk menjalani aktifitas “Self Care”.
  
Orem mengidentifikasikan klasifikasi Nursing System :
a.    The Wholly Compensatory System
Merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan secara penuh kepada pasien dikarenakan ketidakmampuan pasien dalam memenuhi tindakan keperawatan secara mandiri yang memerlukan bantuan dalam pergerakan, pengontrolan dan ambulasi, serta adanya manipulasi gerakan.
b.    The Partly Compensantory System
Merupakan system dalam memberikan perawatan diri secara sebagian saja dan ditujukan pada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal seperti pada pasien post op abdomen dimana pasien ini memiliki kemampuan seperti cuci tangan, gosok gigi, akan tetapi butuh pertolongan perawat dalam ambulasi dan melakukan perawatan luka.
c.    The supportive – Educative System

Dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya untuk dipelajari, agar mampu melakukan perawatan mandiri.

Teori Keperawatan Callista Roy

Teori Keperawatan Callista Roy

Berkembangnya teori keperawatan model adaptasi oleh sister Callista Roy ini terjadi pada tahun 1964. Teori ini digunakan sebagai landasan dan model konsep yang esensial dalam pendidikan keperawatan. Model ini merupakan model yang menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku yang adaptif dan mampu merubah perilaku yang mal adaptif atau memandang klien sebagai suatu sistem adaptasi secara keseluruhan.
Tujuan dari model adaptasi ini adalah membantu seseorang untuk beradaptasi terhdap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, dan fungsi peran dan hubungan interdependensi selama sakit. Kebutuhan asuhan keperawatan muncul ketika klien tidak dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Callista Roy mengemukakakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya antara lain:
1.    Manusia adalah mahluk bio-psiko-sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Seseorang dapat dikatakan sehat jika mampu memenuhi kebutuhan biologis, psikologis, dan sosialnya.
2.    Untuk mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi sesuai dengan perubahan yang terjadi. Kemampuan adaptasi seseorang dipengaruhi oleh tiga penyebab, yaitu penyebab utama terjadinya perubahan situasi dan kondisi yang ada serta keyakinan dan pengalaman dalam beradaptasi atau kemampuan untuk melakukan peran dan fungsi secara optimal.
3.    Terdapat tiga tingkatan adaptasi yang dikemukakan oleh Callista Roy, diantaraya: (A) Focal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradaptasi dengan seseorang dan akan mempunyai pengaruh kuat terhadap seorang individu. (B) Kontekstual stimulus adalah stimulus lain yang dialami seseorang, baik stimulus internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi. Kemudian dapat dilakukan observasi dan diukur secara subjektif. (C) Residual stimulus yaitu stimulus lain yang merupakan ciri tambahan yang ada atau sesuai dengan situasi dalam proses penyesuaian dengan lingkungan yang susah untuk diobservasi.
Sistem adaptasi mempunyai empat metode adaptasi, yaitu: (A) Fungsi fisiologis komponen sistem adaptasi ini diantaranya: Oksigenasi, Nutrisi, Eliminasi, Aktifitas dan istirahat, Integritas kulit, Indera, Cairan dan elektrolit, (B) Fungsi neurologis, (C) Fungsi endokrin, dan (D) Fungsi peran.
Secara ringkas,  Callista Roy mengemukakan bahwa individu sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual sebagai kesatuan utuh yang memiliki koping untuk beradaptasi terhadap segala perubahan lingkungan.