Selasa, 25 Maret 2014

ANALISIS JURNAL KEPERAWATAN JIWA (“Family psychoeducation for major depression”)

0


A.    LATAR BELAKANG
Depresi merupakan suatu gangguan alam perasaan (suasana hati atau mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa tidak berharga, merasa hidupnya hampa dan tidak ada harapan, pemikirannya berpusat pada kegagalan dan kesalahan diri atau menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri. Penderita depresi sering tidak berminat pada penampilan diri dan aktivitas sehari-hari. Depresi sering juga disebut sebagai depresi berat (major depression), gangguan depresi mayor (major depressive disorder) atau depresi klinis (clinical depression). Depresi mempengaruhi perilaku, pola pikir dan perasaan seseorang yang terserang. Depresi sering mengganggu kegiatan sehari-hari dan dapat menyebabkan seseorang merasa bahwa sudah tidak ada lagi guna bagi dirinya untuk terus hidup.
Depresi biasanya memerlukan pengobatan jangka panjang. Meskipun demikian, banyak penderita depresi yang merasa nyaman dan bisa beraktivitas seperti biasa setelah minum obat. Akibat dari penderita depresi berat memerlukan pengobatan jangka panjang dan perlu pengawasan dalam minum obat,  maka peran serta keluarga sangatlah penting untukmencegah kekambuhan. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menganalisis jurnal dengan judul “Family psychoeducation for major depression” untuk mengetahui seberapa efektifkah peran serta keluarga dalam mencegah kekambuhan pasien dengan diagnosa depresi berat.

B.     TUJUAN ANALISIS JURNAL
B.1. Tujuan umum
Untuk menguji psikoedukasi keluarga tentang kesehatan jiwa dalam pemeliharaan pengobatan pasien depresi dan untuk mengetahui pengaruh emosi keluarga yang diekspresikan (EE) pada efektivitas pengobatan pasien depresi berat.
B.2  Tujuan Khusus
1.      Mengetahui kasahihan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian Family psychoeducation for major depression
2.      Mengetahui kesahihan hasil penelitian Family psychoeducation for major depression
3.      Mengetahui apakah penelitian Family psychoeducation for major depression dapat diterapkan dalam perawatan pasien jiwa di rumah sakit
4.      Merekomendasikan rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan dalam merawat pasien dengan depresi berat


  

ANALISIS JURNAL
A.    JUDUL JURNAL
Family psychoeducation for major depression: randomised controlled trial ( pendidikan kesehatan jiwa bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan depresi berat)
B.     TUJUAN PENELITIAN
Untuk menguji psikoedukasi keluarga dalam pemeliharaan pengobatan pasien depresi dan untuk mengetahui pengaruh emosi keluarga yang diekspresikan (EE) pada efektivitas pengobatan pasien depresi berat.
C.    METODE PENELTIAN
1.      Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomised controlled trial atau uji acak terkontrol. Sebuah percobaan acak terkontrol (RCT) adalah jenis percobaan ilmiah/bentuk uji klinis  yang paling umum digunakan dalam pengujian keselamatan (atau lebih spesifik, informasi tentang efek samping perawatan ) dan keberhasilan atau efektivitas dari kesehatan pelayanan (seperti obat-obatan atau perawatan ) atau kesehatan teknologi (seperti obat-obatan , peralatan medis atau pembedahan ). Hal yang membedakan  RCT adalah bahwa subjek studi telah menjalani  penilaian kelayakan sebelum dilakukan rekrutmen.  Biasanya sampel yang ada dibagi menjadi dua dengan perlakukan yang berbeda yaitu sampel yang satu menjalani perlakukan yang sebenarnya sedangkan kelompok yang lainnya hanya sebagai control saja.
2.      Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian, yaitu a set (or collection) of all elements possessing one or more attributes interests. Jadi setiap anggota populasi harus mempunyai karakteristik tertentu yang sama yang akan diteliti.  Populasi dalam penelitan ini adalah semua pasien yang mengalami depresi berat yang menjalani pengobatan Departemen Psikiatri, fakultas kedokteran universitas Kochi dan Rumah Sakit Doujin Jepang yang berjumlah 103 pasien.
3.      Sampel
Sampel adalah sebagian (cuplikan) dari populasi yang masih mempunyai ciri dan karakteristik yang sama dengan populasi dan mampu mewakili keseluruhan populasi penelitian. Sampel dipergunakan ketika jumlah seluruh anggota populasi terlalu banyak sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan penelitian terhadap populasi secara keseluruhan, misalnya populasi penelitian adalah masyarakat pada suatu kota tertentu. Sampel juga digunakan ketika jumlah populasi secara keseluruhan tidak dapat ditentukan secara pasti.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien yang mengalami depresi berat yang menjalani pengobatan Departemen Psikiatri, fakultas kedokteran universitas Kochi dan Rumah Sakit Doujin Jepang yang telah memenuhi criteria inklusi dan ekslusi yang ditentukan oleh peneliti. Adapun criteria inklusi dan ekslusi dalam penelitian ini adalah ;
a.       Criteria inklusi
-          Pasien yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian
-          Pasien dengan usia 18-85 tahun.
-          Diagnosis penyakit depresi berat menurut DSM-IV.21 ( menunjukan gejala-gejala mood depresi hampir sepanjang hari,  hilang minat dan rasa senang secara nyata dalam aktivitas normal, berat badan menurun atau bertambah, insomnia atau hipersomnia, agitasi atau retardasi psikomotor,  kelelahan atau tidak punya tenaga, rasa tidak berharga atau perasaan bersalah berlebihan,  sulit berkonsentrasi,  pikiran berulang tentang kematian, percobaan/ide bunuh diri.
-          Pasien yang menjalani terapi berkelanjutan dengan antidepresan selama penelitian
-           Pasien tidak lagi menjalani  terapi electroconvulsive (ECT), atau direncanakan untuk menjalani ECT.
-          Pasien yang hidup dengan keluarga selama 3 bulan atau lebih sebelum berpartisipasi dalam penelitian ini dan yang diharapkan untuk hidup dengan keluarga selama periode investigasi.
-          Pasien memiliki setidaknya satu anggota keluarga hidup dengan pasien yang bersedia untuk wawancara keluarga (orang tua relatif 18 tahun atau lebih yang pernah kontak dengan pasien untuk waktu yang lama dianggap sebagai anggota keluarga utamanya).
b.      Criteria eksklusi
-          Pasien yang tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian denga berbagai alasan
-          Usia pasien kurang dari 18 tahun dan lebih dari 85 tahun
-          Tidak terdiagnosis depresi berat menurut DSM-IV.21
-          Pasien yang diduga menderita penyakit organik dan telah diperiksa dengan MRI
4.      Hasil Penelitian
            Setelah dilakukan psychoeducation pada keluarga kelompok yang diteliti ditemukan bahwa waktu untuk kambuh cenderung lebih lama di bandingkan kelompok control ( kelompok yang keluarganya tidak mendapat psycoeducation). yang dihitung secara statistik menggunakan Kaplan-Meier survival analisis, P = 0,002. Tingkat kekambuhan sampai dengan 9-bulan follow-up adalah 8% dan 50% masing-masing (rasio risiko 0,17, 95% CI 0,04-0,66; jumlah yang diperlukan untuk mengobati 2,4, 95% CI 1,6-4,9).         


PEMBAHASAN
A.    Kesahihan Metode Penelitian
1.      Desain penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan desain cohort dimana keluarga pasien telah di berikan intervensi terlebih dahulu dan kemudian kondisi klien di follow up selma sembilan bulan kedepan. Penelitian cohort sering disebut penelitian prospektif adalah suatu penelitian survei yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara faktor risiko dengan efek (penyakit). Artinya, faktor risiko yang akan dipelajari diidentifikasi dahulu, kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek, yaitu penyakit atau salah satu indikator status kesehatan. Kelebihan dalam studi kohort ini adalah   
a.       Studi kohort merupakan desain yang terbaik dalam menentukan insidens dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti
b.      Dapat dipakai untuk mengetahui ada tidaknya asosiasi antara faktor risiko dan penyakit.
c.       Dapat memberi keterangan yang lebih lengkap mengenai faktor risiko yang dialami oleh indvidu dan riwayat alamiah perjalanan penyakit.
d.      Dapat sangat mereduksi bias informasi. Tidak akan terjadi masalah recall atau memori.
e.       Masalah etika lebih sedikit dibandingkan dengan study eksperimental.
f.        Dapat dipakai langsung untuk menghitung insidens rate dari penyakit dan risiko relatif dari faktor risiko yang sedang diteliti.
g.      Informasi mengenai studi mudah dimengerti oleh orang yang bukan ahli epidemiologi.
h.      Karena pengamatan dilakukan secara kontinu dan longitudinal, maka studi kohort memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah kesehatan yang semakin meningkat.


Sedangkan kelemahan dalam studi kohort ini adalah
a.       Memerlukan ukuran sampel yang besar, terutama untuk jenis penyakit yang sedikit dijumpai dimasyarakat. Hendaklah dihindari dengan memilih kasus yang sering terjadi, atau penyakit yang tidak kompleks.
b.      Memerlukan waktu follow up yang cukup lama. Untuk itu perlu dipilih penyakit-
penyakit yang mempunyai masa inkubasi yang singkat.
c.       Biaya yang diperlukan selama studi cukup besar dan mahal.
d.      Follow up kadang-kadang sulit dilaksanakan dan loss follow up dapat mempengaruhi hasil penelitian.
e.       Studi kohort seringkali rumit. Untuk menghindarinya pilihlah populasi yang stabil, dan tidak berpindah-pindah tempat.
f.       Kurang efisien segi waktu maupun biaya untuk meneliti kasus yang jarang terjadi.
g.      Terancam terjadinya drop out atau terjadinya perubahan intensitas paparan atau faktor risiko akan dapat mengganggu analisis.
h.      Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan subyek tekena paparan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan subyek. Hendaknya memilih faktor risiko atau exposure yang tidak berbahaya.
Emosi Disajikan dievaluasi dengan menggunakan Sampel Pidato Lima Menit (FMSS)  Sikap Skala Keluarga (FAS). Dalam wawancara untuk FMSS tersebut, seorang anggota keluarga diperintahkan untuk berbicara dengan bebas tentang karakter pasien dan hubungan mereka selama 5 menit tanpa ada sanggahan dari pewawancara. Pidato tersebut kemudian dievaluasi oleh dua penilai yang telah disertifikasi melalui pelatihan resmi untuk FMSS dari sekolah kedokteran University of California di Los Angeles.
Penilaian pada FMSS terdiri dari empat kategori dari pernyataan awal, hubungan, komentar kritis dan ketidakpuasan , yang digunakan untuk menilai kritik, dan enam kategori self-sacrificing/overprotection, kurangnya objektivitas, tampilan emosional, pernyataan sikap, komentar positif dan detail yang berlebihan, untuk menilai overinvolvement emosional (EOI). Penentuan status EE didasarkan pada kategori-kategori, dan anggota keluarga diklasifikasikan sebagai tinggi atau rendah . Rendah EE peserta lebih diklasifikasikan ke dalam EE rendah murni, dan mereka di perbatasan antara EE tinggi dan rendah. Peserta dengan salah satu dari kategori awal, hubungan pernyataan atau kritik dinilai memenuhi kriteria peringkat untuk 'kritis' digolongkan sebagai 'kritis tinggi'.
Demikian pula, siapa pun memenuhi kriteria rating untuk salah satu self-sacrifice/overprotection kategori, kurangnya objektivitas atau layar emosional diklasifikasikan sebagai 'EOI tinggi'. Peserta dinilai sebagai kriteria memuaskan selama lebih dari dua dari tiga kategori pernyataan sikap, komentar positif atau detail yang berlebihan juga dinilai sebagai EOI tinggi. Jika hanya satu kategori hadir, peserta digolongkan sebagai batas EOI / EE rendah. Jika ketidakpuasan hanya hadir, mereka digolongkan sebagai batas kritis / rendah EE.
Untuk mengevaluasi keadaan depresi pasien digunakan Skala Penilaian Depresi Hamilton (HRSD) dan Depresi Beck (BDI) sebelum intervensi dan setelah 9 bulan. Hamilton Anxiety Rating Scale digunakan untuk melihat tingkat keparahan terhadap gangguan kecemasan seorang pasien. HARS terdiri- atas 14 item penilaian (Norman,2005) , yaitu:
1.      Anxious mood; bagian ini akan melihat kondisi emosi pasien yang menunjukkan ketakutan yang luar biasa terhadap ketidakpastian masa depan, merasa khawatir, merasa tidak aman, mudah tersinggung, dan kecemasan.
2.      Ketegangan (tension); bagian ini akan melihat ketidakmampuan pasien untuk bersikap relaks,
3.      tidak nervous, ketegangan, gemetaran, dan kepenatan. 3. Ketakutan (fear); bagian ini akan melihat ketakutan pasien di keramaian, terhadap binatang, di tempat umum, sendirian, lalulintas,
4.      orang asing, kegelapan, dll.
5.      Sulit tidur (insomnia); bagian ini akan melihat pengalaman pasien terhadap durasi tidur dan
6.      kepulasan tidur selama 3 malam sebelumnya. Catatan: tanpa penggunaan obat penenang.
7.      Sulit konsentrasi dan daya ingat; bagian ini akan melihat ketidakmampuan pasien untuk
8.      berkonsentrasi, mengambil keputusan terhadap kejadian sehari-hari, dan lemahnya daya ingat.
9.      Depressed mood; bagian ini akan melihat komunikasi pasien baik secara verbal maupun
10.  non-verbal tentang kesedihan, depresi, tanpa harapan, kemurungan, dan ketakberdayaan.
11.  Gejala-gejala somatik umum: muscular; pasien merasa lemah, sakit, ketegangan otot seperti pada bagian leher dan rahang.
12.  Gejala-gejala somatik umum: sensory; pasien merasa penat dan lemah, atau mengalami gangguan fungsi perasa seperti: tinnitus, mata kabur, sensasi panas-dingin dan keringat buntat.
13.   Gejala-gejala yang berhubungan dengan jantung (cardiovascular); termasuk tachycardia, jantung berdebar, tekanan pada bagian dada, dentaman pada pembuluh darah, dan perasaan seakanakan ingin pingsan.
14.  Gejala-gejala yang berhubungan dengan pernafasan; seperti merasa sesak nafas ataukontraksi pada tenggorokan atau dada, atau rasa seperti tercekik.
15.   Gejala-gejala yang berkaitan dengan usus (Gastro-intestinal); seperti sulit menelan, merasa ada tekanan pada bagian perut, gangguan pencernaan (rasa panas pada bagian perut, sakit perut berhubungan dengan makanan, mual dan muntah), perut terasa keroncongan dan diare.
16.  Gejala-gejala yang berhubungan dengan saluran kencing (genito-urinary); termasuk gejala-gejala non-organik atau psikis, seperti: sering atau susah buang air kecil, menstruasi tidak teratur,anorgasmia, ejakulasi dini.
17.  Gejala-gejala otonomik lainnya, seperti mulut terasa kering, pucat, sering keluar keringat dingin dan pusing, Sikap pada saat wawancara; seperti: pasien kelihatan tertekan, nervous, gelisah, tegang, suara gemetar, pucat, keluar keringat.
Setiap item bernilai 0, 1, 2, 3 atau 4. Nilai 0 menunjukkan tidak ada gejala-gejala yang tampak, dan nilai 4 menunjukkan gejala-gejala dominan dan sangat mengganggu. Total nilai yang diperoleh menunjukkan tingkat keparahan: rendah (total nilai < 17); rendah sampai sedang (total nilai: 18 – 24); sedang sampai parah (total nilai: 25 – 30); dan sangat parah (total nilai > 30).
Sedangkan Depresi Beck  Untuk membantu mengungkapkan tingkat depresi seseorang dapat menggunakan skala depresi beck yang disebut BDI (The Beck Depression Inventory). Skala BDI (The Beck Depression Inventory), terdiri dari 21 kelompok aitem yang menggambarkan 21 kategori sikap dan gejala depresi, yaitu: sedih, pesimis,merasa gagal, merasa tidak puas, merasa bersalah, merasa dihukum, perasaan benci pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, kecenderungan bunuh diri, menangis, mudah tersinggung, manarik diri dari hubungan social,tidak mampu mengambil keputusan, merasa dirinya tidak menarik secara fisik, tidak mampu melaksanakan aktivitas, gangguan tidur, merasa lelah, kehilangan selera makan, penurunan berat badan, preokupasi somatic dan kehilangan libido sex (dalam Lestari, 2003).
Masing-masing kelompok aitem terdiri dari 4-6 pernyataan yang menggambarkan dari tidak adanya gejala sampai adanya gejala yang paling berat. Skor berkisar antara 0-3. Pernyataan yang menunjukan tidak adanya gejala depresi diberi skor 0, skor 1 untuk pernyataan yang menggambarkan adanya gejala depresi ringan, skor 2 untuk pernyataan yang menggambarkan gejala depresi sedang, sedangkan skor 3 untuk gejala depresi berat. Skor yang dipakai untuk masing-masing 3 kelompok aitem adalah pernyataan dengan skor tertinggi. Skor total berkisar antara 0-63. indikasinya jumlah nilai 0-9 dianggap normal, jumlah nilai 0-15 depresi ringan, 16-23 depresi sedang dan jumlah 24-63 depresi berat.
Secara umum intervensi pasien dan keluarga dilakukan pada saat pasien datang untuk berkonsultasi pada ahli kejiwaan. Pasien-pasien tersebut diarahkan untuk memeriksakan diri pada ahli jiwa yang telah di sediakan tetapi identitas menjadi peneliti di rahasiakan. Sedangkan keluarga yang menjadi termasuk dalam kelompok percobaan menjalani kursus materi selama empat sesisetiap dua minggu sekali. Setiap sesi berlangsung 90-120 menit: 30 menit pertama dikhususkan untuk menyediakan informasi tentang depresi dan pengobatannya, dan 60-90 menit berikutnya dikhususkan untuk diskusi kelompok dan pemecahan masalah untuk high-EE situasi yang dialami oleh keluarga yang berpartisipasi.
Sebuah rekaman video dan buku teks yang menjelaskan tentang depresi dan pengobatan telah disusun untuk penelitian ini dan digunakan sebagai bahan mengajar. Dalam kelompok latihan pemecahan masalah, anggota keluarga diminta untuk bekerja sama dalam menyusun daftar solusi yang mungkin dapat dilakukan, membahas kelebihan dan kekurangan, dan mencari solusi terbaik dalam menanggapi tingginya EE situasi yang disarankan oleh anggota keluarga. Para terapis mencoba untuk meminimalkan intervensi mereka untuk menghormati otonomi keluarga dan untuk memberdayakan mereka secara maksimal.
Dari segi sampel, pembagian kelompok untuk menjadi kelompok kontrol (n=32) dan kelompok yang diintervensi tidak dibagi sama rata (n=25). Dalam perjalanannya 3 pasien dan keluarga mengundurkan diri karena ada anggota keluarga yang meninggal dan ada salah satu pasien yang meninggal. Tetapi dalam penelitian ini tidak menjadi masalah, karena hanya melihat secara umum karakteristik pasien berdasarkan kekambuhan terhadap intervensi psikoedukasi pada keluarga.
Dapat disimpulkan bahwa, dari segi sampel sudah memadai bahkan melebihi yang dianjurkan yaitu minimal 5 orang untuk desain eksperimental. Design yang digunakan dalam penelitian ini adalah sangat baik yaitu dengan memberikan intervensi terlebih dahulu pada kelompok yang diteliti (keluarga), dan kemudian mengikuti perkembangan pasien sebagai hasil atas intervensi yang diberikan pada keluarga. Setelah itu, hasil tersebut di bandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan intervensi dan di analisis menggunakan program SPSS 17.0 for windows yang tidak diragukan lagi kesahihannya.
Dari segi alat ukur yang digunakan, Skala Penilaian Depresi Hamilton (HRSD) dan Depresi Beck (BDI) merupakan alat ukur depresi yang digunakan di seluruh dunia. Peneliti yang digunakan untuk penelitian ini merupakan peneliti yang telah memiliki sertifikasi dari fakultas kedokteran universitas california di los angles. Bahan yang digunakan untuk memberikan psikoedukasi telah dibuat sebelumnya agar sesi pertemuan dapat tertata dengan baik.
2.      Kesahihan Hasil Penelitian
Kekambuhan terjadi sebelum selesainya penilaian 9-bulan tindak lanjut pada 2 pasien (8%) pada kelompok intervensi dan 15 (50%) pada kelompok kontrol. Kaplan-Meier analisis survival mengungkapkan bahwa waktu untuk kambuh secara statistik signifikan lebih lama pada kelompok intervensi dibanding kelompok kontrol (χ2 = 9,57, df = 1, P = 0,002). Para skenario terburuk analisis sensitivitas tidak merubah hasil (χ2 = 6,63, df = 1, P = 0,01). Rasio hazard (HR) kambuh dengan 9 bulan adalah 0,17 (95% CI 0,04-0,75; uji eksak Fisher, P = 0,002). Pada saat kambuh nilai rata-rata adalah 22,5 HRSD dan 29,1 dan rata-rata skor BDI adalah 26,5 dan 25,2 pada kelompok intervensi dan kontrol masing-masing.
Tingkat remisi pada 9 bulan adalah 83% dan 33% masing-masing, menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (uji eksak Fisher, P = 0,001). Ketika gender dan usia pasien, durasi penyakit, skor HRSD dan status EE pada awal dimasukkan ke dalam analisis bahaya proporsional Cox, hanya skor HRSD muncul sebagai prediktor signifikan (OR = 1,08, 95% CI 1,03-1,14, P = 0,003) dan efek dari intervensi tetap bermakna secara statistik (OR = 0,17, 95% CI 0,04-0,75, P = 0,02).
Analisis survival adalah suatu metode yang berhubungan dengan waktu, mulai dari time origin atau start point sampai dengan terjadinya suatu kejadian khusus atau end point. Dengan kata lain, analisis survival memerlukan data yang merupakan waktu survival dari suatu individu. Dalam bidang kesehatan data ini diperoleh dari suatu pengamatan terhadap sekelompok atau beberapa kelompok individu dan dalam hal ini adalah pasien, yang diamati dan dicatat waktu terjadinya kegagalan dari setiap individu (Collet, 1994). Kegagalan yang dimaksudkan antara lain adalah kematian karena penyakit tertentu, keadaan sakit yang terulang kembali setelah pengobatan atau munculnya penyakit baru. Apabila kegagalan yang diamati adalah terjadinya kematian pada pasien maka waktu survival yang dicatat antara lain sebagai berikut :

a.       Selisih waktu mulai dilakukannya pengamatan sampai terjadinya kematian dan data tersebut termasuk data tidak terpotong (uncensored data).
b.      Jika waktu kematiannya tidak diketahui, maka memakai selisih waktu mulai dilakukannya pengamatan sampai waktu terakhir penelitian dan data tersebut termasuk data terpotong (censored data).
Menurut Cox dan Oakes (1984), terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam menentukan waktu survival secara tepat, yaitu sebagai berikut :
a.       Waktu awal tidak ambigu yang berarti tidak ada dua pengertian atau lebih.
b.      Definisi terjadinya kegagalan secara keseluruhan harus jelas.
c.       Skala waktu sebagai satuan pengukuran harus jelas.
Ada beberapa teori yang pernah membahas tentang survival analysis atau  Proportional hazard model yaitu diantaranya adalah Kaplan-meier dan Cox Pada mulanya permodelan dari teori ini digunakan pada cabang ilmu kedokteran, dimana mereka menganalisis kematian atau harapan hidup seseorang. Dari hasil diatas memang terbukti bahwa pasien yang keluarganya menjalani psikoedukasi yang tertata dan secara rutin dilakukan, akan meningkatkan pengetahuan mereka. Sebelumnya keluarga tersebut telah menjalani latihan pemecahan masalah, anggota keluarga diminta untuk bekerja sama dalam menyusun daftar solusi yang mungkin, membahas kelebihan dan kekurangan, dan mencari solusi terbaik untuk merawat keluarga mereka yang mengalami depresi berat.




 IMPLIKASI KEPERAWATAN

Pada orang dewasa, depresi lebih sulit dikenali karena gejala seperti kecapekan, kehilangan minat, gangguan tidur, gangguan nafsu seksual- sering dikira karena disebabkan oleh penyakit lain. Gejala depresi pada orang dewasa sering tidak terlalu jelas. Mereka hanya merasa kurang memuaskan hidupnya, bosan, merasa dirinya tidak berharga atau tidak ada harapan lagi. Mereka juga biasanya hanya ingin tinggal dirumah dari pada harus bersosialisasi keluar atau mengerjakan sesuatu yang baru. Bila sampai ada keinginan untuk bunuh diri, maka itu merupakan salah satu tanda serius dari depresi yang tidak boleh dipandang enteng. Pada orang dengan depresi, laki laki dewasa tua mempunyai rsiko tertinggi untuk bunuh diri.
Ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab atau factor resiko terkena depresi, yaitu antara lain:
1.      Kesepian atau keterasingan (loneliness)
2.      Pengalaman hidup yang menekan (stressful) akhir akhir ini
3.      Kurangnya dukungan sosial
4.      Riwayat penyakit depresi pada keluarga
5.       Perbedaan biologis (neurotransmitter atau hormonal)
6.       Adanya masalah keluarga atau masalah perkawinan
7.      Masalah keuangan
8.      Adanya trauma atau pelecehan pada masa kanak kanak
9.       Menganggur atau tidak punya pekerjaan
10.  Penyalah gunaan obat atau narkotika
11.  Pola pikir yang negatif.
Dari beberapa faktor diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab depresi adalah sebagaian besar dari faktor eksternal termasuk ekonomi dan sosial lingkungan. Penelitian yang telah di bahas sebelumnya merupakan suatu gambaran bahwa pasien yang sedang menjalani maupun telah menjalani pengobatan kejiwaan memerlukan dukungan sosial yang kuat, yang dapat membuat mereka nyaman. Salah satunya adalah dari dukungan keluarga
            Keluarga membutuhkan dukungan penuh dari tenaga kesehatan dalam segi pemberian pengetahuan kejiwaan, bagaimana mereka harus memperlakukan pasien dengan depresi berat. Jika pasien tersebut masih menjalani terapi di rumah sakit jiwa, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perawat untuk melakukan terapi pada pasien tersebut yaitu

1. Mencegah agar tidak kambuh.
Proses pemulihan dari depresi berat kadang tidak berjalan lurus. Untuk itu, setiap penderita depresi harus melakukan upaya upaya pencegahan agar dirinya tidak jatuh lagi kedalam depresi. Hal hal yang perlu dilakukan untuk mencegah agar tidak kambuh adalah: 
a.       Mempelajari seluk beluk penyakit depresi, seperti gejala, berbagai cara pengobatan dan pemulihan depresi.
b.       Perawat memonitor perubahan suasana hati dan mengenal tanda tanda awal terjadinya depresi. Depresi biasanya tidak terjadi mendadak, ada suatu proses, sehingga bila tanda tanda awal tersebut diketahui, maka tindakan pencegahan untuk menghindari dari depresi bisa dilakukan. Tanda tanda bahaya (warning sign) depresi misalnya: perubahan pola tidur, perubahan perasaan seperti merasa tidak berharga, perubahan pola makan, dan lain lain.
c.       Perlu pula mengajari hal hal yang dapat memicu depresi, seperti kurang tidur, ada tenggat waktu (deadline) pekerjaan yang mendesak, bertengkar dengan atasan atau saudara dekat, dan lain lain. Hal hal yang dapat memicu depresi sebisa mungkin dihindari.
d.      Mempelajari hal hal yang bila dilakukan akan membuat perasaan menjadi baik, seperti curhat dengan keluarga/ teman dekat, melukis atau menulis, main music, jalan kaki pagi, dll. Bila ada tanda awal akan kambuh, maka perlu dilakukan kegiatan yang bisa menghindarkan dari kambuhnya depresi dengan melakukan kegiatan kegiatan yang bisa membuat suasana hati kembali menjadi baik.
e.       Bila kondisi semakin memburuk segera hubungi dokter yang merawat agar tidak perlu terkena depresi lagi.
        
2. Membangun hubungan yang mendukung (support network).
Adanya keluarga, saudara atau teman dimana pasien bisa “curhat” sangat penting untuk mencegah dan mengatasi depresi. Terisolasi atau merasa sendirian tanpa teman dapat membuat depresi menjadi lebih berat. Agar jiwa tetap sehat atau menjadi semakin sehat, semua orang perlu berteman dan persahabatan. Agar bisa terbangun jaringan pertemanan atau persaudaraan yang mendukung, maka upayakan untuk:
a.       Mempunyai saudara atau teman yang dipercaya. Upayakan agar kita punya seseorang dimana kita bisa menceritakan perasaannya dan meminta dukungan mereka.
b.      Mencoba untuk tetap ikut kegiatan sosial meskipun diawalnya kita merasa berat atau tidak menyukainya. Ketika depresi biasanya seseorang senang menyendiri, namun berada diantara teman dan saudara akan membuat penderita depresi merasa lebih baik.
c.       Upayakan untuk bergabung dengan kelompok support group for depression. Bertemu dan berbicara dengan orang orang yang sama sama sedang berusaha mengatasi depresi bisa membuat depresi berkurang. Bila dikota kita belum ada kelompok seperti itu, kita bisa membantu terbentuknya support group for depression di kota kita masing masing.

Pendekatan keluarga dan pemberian pendidikan kesehatan jiwa sangat penting dilakukan. Hal-hal tersebut diatas dapat dapat dianjurkan pada saat pasien dan keluarga berkunjung ke poli jiwa, maupun pada saat pasien sedang di rawat di bangsal. Semua hal tersebut memang dirasa sangat berat karena berbagai faktor yang mempengaruhi diantaranya tingkat pengetahuan keluarga dan pasien.
Banyak sekali cara yang dapat di lakukan bagi keluarga pasien selain hanya berbicara pada saat keluarga berkunjung seperti memberikan leaflet, video,buku, agar kklien dan keluarga tetap mengingat apa yang semestinya mereka lakukan. Terapi di ruangan bagi pasien juga banyak yang dapat dilakukan seperti terapi kognitif perilaku, membangun daya tahan,  terapi aktifasi perilaku, mengendalikan stres, pencegahan bunuh diri.
  

DAFTAR PUSTAKA

Kae shimazu,et al. 2011. Family psychoeducation for major depression: randomised controlled trial. http://bjp.rcpsych.org/content/198/5/385 .26-5-2012. Magelang
Sri Kusumadewi, 2008. Aplikasi Fuzzy Total Integral Pada Hamilton  Anxiety Rating Scale (Hars). Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Wibowo Setiaji. 2012. Depresi: Panduan Bagi Pasien,Keluarga, Teman Dekat.  Purworejo. Tirto jiwo







Author Image

About ALVA MUSTAMU
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

Tidak ada komentar: